AWAN kebahagiaan tengah memayungi umat Paroki St. Mikael Gombong. Bertepatan dengan Hari Raya Tiga Malaikat Agung (Gabriel, Rafael, dan Mikael) diadakan Misa Pesta Nama Pelindung Paroki St. Mikael Gombong dan Permberkatan Panti Mandala pada tanggal 29 September 2019 pekan lalu. Misa konseleberasi dipimpin oleh Uskup Keuskupan Purwokerto, Mgr. Christophorus Tri Harsono.
Selain Mgr. Tri, 16 imam ikut serta menghadiri misa yang mengambil tema “Semakin Beriman, Dewasa, dan Setia dalam pelayanan” ini.
Para imam itu adalah Romo Agustinus Handi Setyanto Pr (Pastor Kepala Paroki St. Mikael Gombong), Romo Bram Mahendra dan Romo Fomo Yitno Puspohandoyo Pr (Pastor Rekan Paroki St Mikael Gombong).
Para romo yang pernah berkarya di Paroki Gombong ikut serta dalam misa ini.
Para imam itu adalah Romo Ia Indra Pamungkas Pr, Romo Bagyo Purwanto Pr, Romo Yusuf Widiarko Pr, Romo Kris Warsito Pr, dan Romo Paulus Bambang Widiatmoko Pr.
Pastor Paroki St. Yusuf Pekerja Karanganyar yakni Romo AE. Endro Wignyo Seputra MSC, Romo Hendro Riberu MSC, Romo Dwi MSC dan imam asal Paroki St. Mikael Gombong Romo Octavianus Hery Setiawan Pr ikut pula dalam kegembiraan misa syukur ini.
Dalam kata pembukaannya, Romo Handi mengucapkan syukur dan terimakasih atas keterlibatan umat Paroki St. Mikael dalam membantu renovasi Panti Mandala yang berada persis di samping Gereja St Mikael Gombong.
Gedung baru ini akan digunakan untuk berbagai kegiatan umat.
Bacaan Injil mengenai orang kaya dan Lazarus yang miskin (Lukas 16: 19-31).
Dalam homilinya Mgr. Tri mengajak umat untuk merenungkan bahwa cerita ini tidak semata-mata mengenai si kaya dan si miskin. Banyak orang kaya yang membuang-buang makanan, hidup berfoya-foya, mengambil hak orang miskin (misalnya dengan cara korupsi), padahal kekayaan tidak abadi.
Di sisi lain banyak juga orang miskin yang korupsi waktu.
“Bukan kesuksesan, kekayaan, pangkat, dan kedudukan yang terpenting. Itu semua hanyalah sarana. Namun bagaimana relasi kita dengan Tuhan dan sesama, itulah yang lebih penting. Apakah kehadiran kita mampu membahagiakan sesama? Apakah Gereja peduli dengan banyak orang terutama mereka yang sakit, lemah, menderita, dan putus asa?” tanya uskup yang fasih berbahasa Arab dan Italia ini.
Mengakhiri homilinya, Uskup yang pernah menjabat Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Bogor ini mengatakan bahwa “Kepedulian pada sesama menjadi bentuk syukur dan pelayanan kita kepada Tuhan.”
Seusai homili, Mgr. Tri memberkati ruang-ruang di Panti Mandala (ruang kerja, sekretariat, ruang rapat, aula, Taman Bacaan Rohani, dan gudang) sambil diiringi lagu Sungguhlah Indah RumahMu dan Gereja Bagai Bahtera yang dinyanyikan penuh semangat oleh Paduan Suara St. Cicilia.
Sebelum misa berakhir, Bapak Nagajaya selaku Ketua Panitia Pembangunan Panti Mandala menyampaikan laporan keuangan secara singkat.
Selanjutnya Mgr Tri menandatangani prasasti dan memotong tumpeng. Tumpeng kemudian diberikan kepada Bapak HY Agus Susanto sebagai wakil umat.
Hal ini menandakan bahwa Panti Mandala sungguh merupakan fasilitas gereja dari umat dan untuk umat.
Seusai misa diadakan pesta rakyat dengan hiburan musik keroncong Irama Kasih.
Kemeriahan malam ini diakhiri dengan pementasan wayang oleh Romo Dalang Agustinus Handi Setyanto Pr dan menampilkan dalang cilik Dimitrius Arbenio Rinaldo, putera Bapak Rexy dari lingkungan Thomas dengan lakon Semar Mbangun Jiwa.