Bacaan I: Yer. 2: 1-3.7-8.12-13
Injil: Mat. 13: 10-17
ADA sepasang suami isteri merantau ke desa tetangga. Mereka pergi “merantau”, karena desa tetangga ada pasar yang menjadi pusat jual beli sembako dan hasil bumi. Sehingga di desa tetangga itu lebih banyak peluang bagi mereka untuk bekerja.
Suami isteri ini bekerja sebagai buruh serabutan di pasar.
Di tempat yang baru mereka tidak punya rumah, sehingga mereka selalu tidur di lapak-lapak yang kosong di pasar itu. Mereka tidur di situ, karena mereka tidak punya cukup uang untuk menyewa rumah.
Melihat keadaan suami isteri itu, ada pedagang pasar yang menawarkan rumah kosong miliknya untuk ditempati. Suami isteri itu begitu bersyukur bahwa mereka boleh menempati rumah kosong milik pedagang itu.
Rumah kosong itu letaknya di halaman belakang rumah pedagang itu. Pedagang itu tidak meminta uang sewa, bahkan ia memberi uang kepada mereka untuk membeli tempat tidur dan perlengkapan rumah tangga.
Jadilah suami isteri itu tinggal di rumah kosong pedagang pasar itu. Dalam khasanah Jawa suami isetri itu magersari di tempat pedagang. Bertahun tahun suami isteri itu magersari di tempat pedagang itu.
Keempat anaknya lahir dan besar di tempat itu. Bahkan anak pertamanya sesudah menikah diijinkan oleh pedagang itu untuk membuat kamar tambahan di samping rumah orang tuanya.
Entah bagaimana kisahnya, pada suatu hari pedagang itu yang sudah sepuh didatangi orang yang merasa telah membeli rumahnya. Pedagang itu diminta untuk segera mengosongkan rumahnya.
Betapa terkejut pedagang itu, karena mereka merasa tidak pernah menjual rumahnya.
Setelah ditelusuri ternyata suami isteri yang magersari itu yang menjual tanah dan rumah pedagang itu. Semua tetangga heran dengan kelakuan suami isteri itu.
Sudah ditolong tetapi malah mencelakakan yang menolong. Orang-orang di desa itu menyebut suami istri itu “Dikek’i ati malah ngrogoh rempela” (diberi hati akan tetapi malahan mengambil jantung).
Sikap dan perilaku suami isteri yang magersari itu sering kali menggambarkan sikapku pada Tuhan. Aku sering kali bersikap tidak tahu terima kasih dan bahkan durhaka pada Tuhan.
Kritik Nabi Yeremia terhadap umat Israel adalah kritik bagi sikap dan perilakuku. “UmatKu berbuat kejahatan ganda; mereka meninggalkan Daku, sumber air yang hidup, dan menggali sendiri kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.”