2Kor.8:1-9; Mzm.146:2.5-6.7.8-9a;
Mat. 5:43-48.
“IBU, ada berita kalau bapak sekarang sakit?,” kata seorang anak perempuan pada ibunya.
“Perlu apa dia dengan aku? Kan dia sudah ada isteri lagi dan keluarga, serta dokter yang merawat?,” kata ibu itu.
“Kalau tidak sakit berat, mungkin mereka tidak akan mengontak kita, Bu,” kata anaknya itu.
“Kamu ke sana saja dulu. Aku ingin ke sana, jika perempuan itu tidak ada di sisinya,” sahut ibu itu.
“Bagaimana pun dia itu tetap bapakmu. Dan aku sudah menerima sikapnya meninggalkan kita. Tapi dengan perempuan itu, aku belum bisa menerima. Meski tidak ada lagi amarah di hatiku,” lanjut ibu itu.
“Iya Bu, saya secepatnya akan mengunjungi bapak di rumah sakit,” jawab anaknya.
“Aku buatkan masakan kesukaan bapakmu. Nanti kamu bawa ya,” kata ibunya.
“Iya,” sahut anaknya.
“Sampaikan salamku pada bapakmu. Jika sudah saatnya, pasti ibu akan mengunjungi bapakmu,” tutur ibunya.
“Ibu menunggu bapak sekarat baru mau bertemu?,” tanya anaknya dengan lugas.
“Kalau mengikuti perasaan, saya juga tidak mau bertemu dengan bapak,” lanjut anaknya.
“Ibu sudah mengampuni bapakmu. Tetapi ibu belum siap bertemu dengannya dan juga perempuan serta anak-anaknya,” sahut ibu itu dengan sedih.
“Ibu tidak sendiri menanggung kesedihan selama ini. Namun, saatnya kita menyelesaikan semuanya ini,” kata anaknya.
“Jangan sampai kita terpenjara oleh rasa sakit hati dan kemarahan kita sendiri,” lanjut anaknya.
Sepekan kemudian ibu dan anak itu mengunjungi dan bertemu dengan suami dan perempuan yang telah mengambil suaminya.
“Jalan panjang luka hati ini berakhir, ketika saya bisa bertemu bapakmu dan berdoa bersama tadi,” kata ibu itu pada anaknya.
“Ganjalan di hati seakan lebur. Dan kita tetap bisa berdiri tegak sebagai orang yang menang atas luka dan derita,” kata anaknya.
“Jika ibu tidak datang hari ini, sampai kapan pun ibu akan tetap terluka, menyimpan marah, dan menanggung beban kesedihan,” kata ibu itu.
Mengampuni dan mendoakan musuh adalah langkah awal untuk membongkar beban hati dan melepaskan jerat derita masa lalu yang kelam.
Siapakah musuhku dalam hidup ini?
Beranikah aku mulai langkah untuk berdamai dengannya?