Pemenang Sejati

0
284 views
Piala pemenang

Bacaan 1: 1Kor 9:16-19. 22b-27

Injil: Luk 6:39-42

Seorang sahabatku rela meninggalkan kariernya yang cemerlang sebagai seorang professional di Singapura. Dia memutuskan untuk menjadi awam yang selibat, keluar dari pekerjaan dan kuliah Teologi di Roma.

Tabungannya selama bekerja dipakainya untuk kuliah di Roma.

Tahun lalu dia lulus dan mulai berkarya sebagai pewarta injil. Sewaktu memutuskan berhenti kerja, saya pernah tanyakan keseriusannya itu, apakah hanya emosi sesaat atau sudah bulat.

“Saya bulat memutuskan untuk hidup melayani Tuhan, meski awam.”

Demikian tekadnya.

Kerasulan Paulus tidak pernah kita ragukan komitmennya, meski sempat dipertanyakan oleh sebagian jemaat Korintus. Sebagai seorang Yahudi fanatik dan taat melaksanakan Taurat, Paulus rela meninggalkan kehidupan lamanya dan tulus melayani Tuhan Yesus.

Paulus tidak pernah mempergunakan hak-haknya sebagai pewarta, termasuk memikirkan upah pewartaannya.

“…pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.

…Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil…, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.”

Bahwa melayani Kristus bukanlah suatu mata pencaharian, melainkan sebuah keharusan. Tujuannya hanya satu, yaitu memenangkan pertarungan agar semakin banyak orang diselamatkan. Dan ia sendiri meraih mahkota kemenangannya saat Hari Tuhan nanti.

Dalam pengajarannya kepada para murid dan orang banyak yang mengikuti-Nya, Tuhan Yesus mengingatkan agar tidak menjadi orang munafik. Hanya mau melihat kesalahan orang lain, padahal dirinya banyak melakukan kesalahan juga.

Yesus menjelaskan hal menghakimi dengan perumpamaan tentang seorang buta menuntun orang buta.

“Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?

Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?”

Kepada mereka, Tuhan Yesus mengingatkan agar selalu melakukan introspeksi diri dan selalu berhati-hati untuk memilih siapa yang harus diikuti agar tidak jatuh ke dalam lobang bersama-sama.

Banyak pewarta bekerja hanya untuk perutnya sendiri dan bukan untuk memenangkan “Mahkota Sejati”.

Pesan hari ini

Berlarilah ikut pertandingan untuk memenangkan “Mahkota Keabadian” dari Kristus dan bukan untuk kehormatanmu semata.

“Semangat kerendahan hati lebih manis daripada madu, dan mereka yang menyuburkan dirinya dengan madu akan menghasilkan buah yang manis.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here