Puncta 1 Maret 2025
Sabtu Biasa VII
Sabtu Imam
Markus 10.13-16
ADA beberapa paroki yang membuat kegiatan pendampingan anak-anak PIA atau BIAK pas perayaan ekaristi berlangsung.
Anak-anak didampingi di aula gereja. Mereka diajak bernyanyi dan menari oleh para pendamping. Sementara orangtuanya mengikuti perayaan Ekaristi di gereja.
Anak-anak diberi kegiatan di aula terpisah dari perayaan Ekaristi di gereja. Mereka disuruh masuk dan bergabung ikut misa saat persembahan.
Akibatnya banyak anak tidak mengikuti ekaristi secara utuh, dari awal hingga akhir. Jangan heran kalau hal ini menjadi kebiasaan. Mereka tidak merasa bersalah kalau datang terlambat mengikuti ekaristi.
Ada banyak alasan yang dikemukakan. Pertama, anak-anak dianggap sering mengganggu kekhusukan ekaristi karena gaduh, ramai dan berisik.
Kedua, keterbatasan waktu para pendamping. Ketiga, tidak ada waktu bagi orangtua kalau harus mengantar anaknya ikut sekolah Minggu.
Bukankah ini tanggungjawab orang tua untuk mendampingi anak-anaknya agar makin mengenal Tuhan lewat Ekaristi? Bukan malah menjauhkan mereka dari Ekaristi?
Inilah yang dilakukan oleh para murid ketika orang-orang membawa anak-anak kepada Yesus. Para murid memarahi mereka. Anak-anak dianggap hanya mengganggu dan merepotkan saja.
Tetapi Yesus justru memarahi murid-murid-Nya, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.
Mungkin kita juga seperti para murid yang menganggap anak-anak sebagai pengganggu, pembuat onar, gaduh berisik di gereja. Lalu menjauhkan mereka dari Tuhan dengan alasan yang rohani; mereka didampingi di sekolah Minggu.
Apakah kita juga halangi mereka untuk dekat dengan Yesus?
Jalan ke Pontianak membeli duku,
Buah langsat nama sebenarnya.
Biar anak-anak datang pada-Ku,
Jangan halangi kebahagiaan mereka.
Wonogiri, jangan halangi anak-anak
Rm. A. Joko Purwanto, Pr