SEKITAR 650 umat Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten menghadiri Perayaan Natal paguyuban umat dan perpisahan dengan Vikaris Parokial Paroki Wedi Rama Christophorus Sutrasno Purwanto Pr yang diadakan di Balai Mandala Gereja Wedi pada Minggu (8/1/2017) malam. Natalan paguyuban umat ini mengangkat tema “Mencintai Itu Memiliki dan Terlibat”.
Ketua Panitia Natalan Paguyuban Umat, Antonius Dwi Noor Wahyudi menjelaskan, umat yang hadir pada natalan ini berasal dari 23 paguyuban umat dan empat komunitas yang ada di Paroki Wedi. “Natalan Paguyuban Umat ini sudah kita adakan yang ketiga kalinya. Dan seperti sudah menjadi tradisi, Natalan Paguyuban Umat selalu kita adakan pada Hari Raya Penampakan Tuhan atau Epifani,” katanya.

Dwi menambahkan, Natalan Paguyuban ini berprinsip: dari kita, oleh kita, dan untuk kita. “Maka seluruh anggaran (dana) untuk Natalan ini ditanggung oleh paguyuban umat secara bergotong-royong sesuai kemampuan paguyuban. Setiap paguyuban juga diminta tampil mengisi acara dan menyediakan door prize agar acara Natalan Paguyuban ini berlangsung meriah,” ujarnya.
Natalan Paguyuban umat kali ini diisi dengan acara ibadat singkat, ramah tamah, hiburan, dan makan bersama. Berhubung Rama Sutrasno mau berpindah tugas ke Paroki Mater Dei Lampersari Semarang, maka kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh Rama Sutrasno untuk berpamitan kepada umat Paroki Wedi.
Dalam renungan Natal, Rama Sutrasno menyampaikan, peristiwa Natal yang dirayakan setiap tahun itu sama. Hanya saja, konteks dan pesannya yang selalu baru. Seperti konteks Natalan Paguyuban umat kali ini.
Mencintai itu terlibat
“Kita bersyukur di Paroki Wedi ada begitu banyak (23) paguyuban umat. Ada paguyuban yang berdasarkan pada usia, minat, dan sebagainya,” ucap rama.

Rama Sutrasno mengatakan, mencintai itu memiliki dan terlibat. “Dengan terlibat, maka paguyuban (kita) akan merasa dimiliki dan memiliki. Dan untuk mengungkapkan rasa cinta kita, maka kita harus terlibat. Caranya dengan aktif dalam berbagai kegiatan. Maka, mencintai itu harus memiliki, mempunyai perhatian, dan mewujudkan cinta kita itu dalam keterlibatan kita,” pesan rama.
Natalan paguyuban umat ini berlangsung meriah.
Ada penampilan senam Gemu Famire persembahan dari Paguyuban Lansia Santo Yoakhim Santa Ana, drama “Perjumpaan dengan Yesus” dari Persekutuan Doa Karismatik Katolik Santa Faustina, nyanyian dari Kelompok Koor Lentera Kasih, gendhing dari Karawitan Anak Parikesit, musik keroncong dari Komunitas Pasturan, gerak dan lagu dari “Baskom Tanjunganom” Misdinar Santo Tarcisius, Tari Topeng dari Prodiakon Santo Stephanus, dan band dari OMK Santo Sylvester.
Panitia juga menyediakan lebih dari 150 door prize sumbangan dari paguyuban umat dan pribadi. Mereka yang hadir merasa terhibur dan meminta agar Natalan seperti ini diadakan lagi pada masa mendatang.

Shallom
Mohon infonya apakah romo Chr Sutrasno, Pr pernah bertugas di paroki Kumetiran jogyakarta, th 1990an
Makasih
Berkah Dalem
Bisa jadi begitu, pernah bertugas di Paroki Wedi, juga Paroki Klaen, dan sekarang di Semarang.