HARI Minggu (24/12) pukul 06.30, Romo Andreas Suparman SCJ bergegas ke gereja paroki. Ia bersiap-siap untuk merayakan hari Minggu Adven ke-4.
- “Kamu mau misa?,” tanyanya kepada saya yang menuju kamar mandi.
- “Kan saya masih punya dua misa,” kata saya sambil menggelengkan kepala.
Yang saya maksudkan adalah Misa Malam Natal pada pukul 16.00 di Stasi St .Theresia Tanjung Rejo (BK 16) dan Misa Malam Natal pada pukul 19.00 di Stasi Rejosari (BK 14). Pagi itu, saya menyiapkan segala sesuatu untuk Misa Malam Natal.
Siapkan sendiri
Adalah tugas seorang imam menyiapkan segala hal berkenaan dengan Perayaan Ekaristi.
Karena itu, prinsip saya adalah tidak mengandalkan koster. Bisa saja ada bahan-bahan atau alat-alat yang tertinggal. Apalagi yang tertinggal adalah hosti atau anggur. Mosok harus pulang lagi ke pastoran yang jaraknya jauh dengan melintasi jalan berlumpur untuk mengambil hosti atau anggur?
Selama ini, yang saya lakukan adalah menyiapkan sendiri peralatan misa dan bahan-bahannya sebelum berangkat ke stasi-stasi. Hasilnya, bahan-bahan pokok dan peralatan untuk misa belum pernah tertinggal.
Pukul 15.00 WIB, kami meninggalkan pastoran. Mobil Panther milik pastoran dengan sopir Mas Gonek menderu di atas tanggul cor-coran semen dari Desa Tegalsari menuju BK 19. “Pakai mobil pastoran yang lebih tinggi. Ada berita dari Cikwan bahwa jalan rusak. Mobil Avanza terlalu rendah, nanti nyangkut,” kata Romo Suparman tentang mobil yang saya kendarai dari Palembang.
Catatan Perjalanan Natal ke OKU Timur – Sumsel: Perjumpaan yang Menyenangkan (2)
Benar saja. Banyak tempat yang tergenang air dengan lumpur tanah merah yang menghambat perjalanan. Mobil Panther dengan angkuh menembus lobang-lobang meski oleng ke kiri dan ke kanan. Setengah jam kemudian, kami tiba di depan kapel Stasi St Theresia Tangjung Rejo.
Umat telah memenuhi halaman gereja. Ada yang sudah berada di dalam gereja stasi.
Setelah menyalami sejumlah umat, saya langsung menuju sakristi. Saya menjumpai para petugas liturgi yang juga sedang menyiapkan diri.
- “Romo, apakah bacaan yang kita pakai dari ibadat sebelum Misa Malam Natal?,” tanya Ketua Seksi Liturgi.
- “Bukan, Mas. Nanti kalian tidak merayakan Natal. Kita pakai bacaan-bacaan Misa Malam Natal bae (saja),” kata saya, meski Misa Malam Natal masih berupa Vigili Natal.
Ia pun menyiapkan bacaan-bacaan dari Misa Malam Natal. Sayang, saat dibaca oleh lektor, tetap saja bacaan dari ibadat menjelang Natal. Cuma mazmur yang dinyanyikan dengan suara merdu dari mazmur Vigili Natal. Saya tetap membacakan Injil dari Misa Malam Natal.
Malam Kudus berbahasa Jawa
Setelah Maklumat Natal dinyanyikan oleh seorang bapak, umat menyanyikan lagu Malam Kudus dalam Bahasa Jawa. Masih berada di sakristi dengan busana liturgis, saya tersenyum mendengar lagu Malam Kudus yang dinyanyikan pada pukul 16.00.
Masih sore tetapi sudah dinyanyikan lagu Malam Kudus. Apalagi seluruh umat, sekitar 200 umat, menyanyikannya dengan penuh semangat. Bagi mereka, lagu Malam Kudus adalah simbol keheningan dan kekudusan dalam menyambut kehadiran Tuhan Yesus, Sang Penebus.
Tumpeng kelahiran
Kunjungan menjadi salah satu acara tetap bagi umat usai Perayaan Ekaristi Malam Natal. Sore itu, semua umat beranjak ke keluarga yang telah menyiapkan santapan Natal. Setelah kami masuk ke ruang tamu yang digelar tikar, seorang bapak keluar dari dapur membawa tumpeng. Saya terkejut melihat tumpeng itu dan ingkung (ayam utuh yang telah dibumbui).

- “Kok potong tumpeng, Mas?,” tanya saya.
Dalam hati, saya berpikir apakah ada yang melahirkan bayi?
- “Iya, romo. Kan kita merayakan kelahiran Tuhan Yesus,” kata Cikwan sambil mengumbar senyum.
Cikwan kini menjadi tokoh di desa dan Stasi St Theresia Tanjung Rejo. Konon ia pernah mengenyam dinginnya jeruji besi. Ia pernah menjadi perampok yang ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara di Lampung.
Kemudian hari, ia bertobat karena perjumpaannya dengan seorang imam. Ia kemudian membangun hidup rumah tangga dan menetap di kampung halamannya, Tanjung Rejo.
Cikwan menuturkan, ketika ditawari untuk Misa Natal pada hari Natal (Senin, 25/12), umat menolak. Umat lebih memilih Misa Malam Natal pada Minggu (24/12) pukul 16.00.
“Pas Hari Natal masyarakat di desa ini akan datang mengunjungi kami. Kami harus buka pintu sejak pagi untuk tamu-tamu. Jadi biarlah kami misa malam Natalnya hari Minggu sore,” kata Cikwan, memberi alasan Misa Malam Natal diadakan pada Minggu sore.
“Kunjungan dari masyarakat saat Natal sudah terjadi setiap tahun. Ini tandanya kami hidup bersaudara di desa ini,” tambah Cikwan.
Suasana persaudaraan tampak dalam kunjungan ini. Seluruh umat bersukacita atas hari yang penuh rahmat. Usai kunjungan, mereka pun pulang ke rumah untuk menyiapkan diri keesokan hari menyambut tamu yang datang dengan penuh ceria. (Berlanjut)