Film Pendek, Cara SMA Dominikus Wonosari Lawan Kecanduan Gadget

0
30 views
SMA Dominikus Wonosari: Penulis ketika mempresentasikan karya film pendek berjudul "The Helper Angel". (Dorothe Pane Melia)

KECANDUAN gadget di kalangan pelajar telah memicu banyak kekhawatiran. Hal ini bisa melunturkan jiwa sosial remaja untuk berinteraksi dengan sesamanya. Ada istilah untuk menyebut kondisi ini, yakni nomophobia.

Nomophobia berasal dari kata “No Mobile Phone Phobia”, yang merupakan kecenderungan seseorang untuk selalu berada dekat dengan gadget-nya. Sindrom ini terjadi akibat rasa khawatir jika tidak mengetahui informasi terbaru melalui perangkatnya.

Kondisi ini tentu saja memengaruhi dunia pendidikan. Banyak peserta didik saat ini terbilang tidak dapat menjauhkan gadget dari genggamannya. Mereka lebih peduli pada gadget, ketimbang suasana sekitar.

Festival film pendek

Sebagai respon atas kondisi ini, SMA Dominikus Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta -nama sekolah menang tanpa kata Santo; langsung SMA Dominikus Wonosari- menggelar selebrasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan mengusung tema “Nomophobia” dalam bentuk Short Movie Festival atau Festival Film Pendek.

Kegiatan ini dirangkai dalam peringatan hari ulang tahun ke-36 SMA Dominikus Wonosari yang telah berlangsung pada Kamis-Jumat, 27-28 Februari 2025).

Empat kelompok

Ada empat kelompok yang berpartisipasi dalam festival ini dengan anggota berkisar 10 hingga 11 orang dari Fase E dan Fase F1. Tiap kelompok harus mengolah tema nomophobia secara kreatif dengan membuat karya film pendek dengan durasi 15 menit hingga 25 menit.

Kakak kelas yakni pelajar kelas XII tidak berpartisipasi dalam ajang ini. Itu karena mereka masih melaksanakan Kurikulum K-13 yang tidak menyertakan P5, sebagaimana Kurikulum Merdeka.

Dewan guru SMA Dominikus Wonosari mendukung proses pembuatan movie dengan memberikan pendamping dalam tim. Keempat tim memiliki guru pendamping yang berbeda. Terdapat dua sampai tiga pendamping dalam setiap kelompoknya.

Tidak langsung melakukan pengambilan gambar, melainkan melewati proses terbilang cukup panjang. Mulai dari literasi nomophobia dan cinematography pada Januari, kemudian mulai menggarap movie di bulan selanjutnya.

Setiap kelompok membuat naskah dan membagi peran secara mandiri. Meski disertai pendamping, para anggota berkesempatan untuk mengekspresikan dirinya sekreatif mungkin.

Penulis berada di kelompok dua, yakni Fase F1 dengan 11 anggota. Penulis mendapat kepercayaan menjadi penulis naskah, sutradara, camera person, editor, juga sebagai pemeran atau talent. Tentu peran ini tidak dijalani sendirian. Anggota lain dalam kelompok, juga ikut berpartisipasi sebagai penulis naskah, camera person maupun editor. Sementara anggota lainnya sebagai talent.

Malaikat penolong

Kelompok kami menggarap film berjudul The Helper Angel. Secara singkat, film kami mengisahkan tokoh bernama Arsenio yang tidak bisa lepas dari game di gadget-nya. Tiada hari tanpa main game. Membuat dia meninggalkan tugas-tugasnya sebagai pelajar.

Sampailah di suatu malam, Arsenio tertidur sehabis bermain game dan muncul mimpi yang aneh. Tiba-tiba muncul seseorang yang menasihati dia dengan bahasa isyarat. Sulit dipahami olehnya. Sosok yang tiba-tiba muncul itulah the helper angel bagi Arsenio.

The helper angel bernama Zoya; merupakan korban nomophobia yang meninggal karena kecelakaan karena asyik bermain gadget. Kala itu, Zoya sempat mendapat pertolongan dari ibunya Arsenio.

Sebagai balas budi, arwah Zoya mendatangi Arsenio dalam mimpinya untuk mengingatkan dia tentang bahaya nomophobia yang bisa saja merenggut nyawa. Tak hanya dalam mimpi, Zoya memantau Arsenio selama kegiatan belajar di kelas.

Zoya menampakan dirinya lagi ketika Arsenio mampu mengalahkan sindrom itu dengan hobi barunya, yakni menggambar. Film ini ingin menyampaikan pesan agar jangan terlalu larut dengan dunia maya, karena kita masih memiliki dunia nyata. Mengajak pelajar Indonesia bergerak bersama lawan nomophobia.

Siswa SMA Dominikus sejenak menyimak poster film pendek sebelum penayangan. (Dorothea Pane Melia)

Produksi dengan perangkat sederhana

Seluruh proses pembuatan film menggunakan peralatan sederhana dan seadanya. Tidak ada pencahayaan tambahan atau pun kamera canggih. Semuanya menggunakan gadget pribadi tanpa tripod.

Masih harus berhadapan dengan storage gadget yang terbatas, bahkan nyaris hang, karena tidak kuat menyimpan file. Kelompok kami menggunakan dua gadget untuk merekam. Dan juga satu laptop tua yang hampir ketinggalan zaman untuk proses editing.

Pengambilan gambar atau shooting menghabiskan waktu sekitar lima hari. Ini sudah termasuk nyicil shooting di waktu libur selama dua hari dan tiga hari lainnya di waktu yang berbeda.

Dinamikanya juga asyik. Banyak adegan yang harus diulang, atau salah angle, kurang cahaya, atau talent lupa dengan skenario. Membuat kesal sekaligus juga asyik.

Sebagai “bonus” buat penonton, movie ini disertai dengan tiga menit tayangan behind the scenes di bagian akhir. Puji Tuhan, film kami berhasil menyabet apresiasi sebagai terfavorit pertama!

Kelompok lainnya menggarap judul yang juga menarik, yakni Aku dan Ponsel, Sesal, dan Hidup Tanpa Pundak Hati Tanpa Tangan.

Satu di antara adegan dalam film pendek yang pengambilan gambarnya di lingkungan sekolah SMA Dominikus Wonosari. (Dorothea Pani Melia)

Ruang pertemuan disulap jadi bioskop

Saat penayangan keempat film, meeting room SMA Dominikus Wonosari disulap menjadi bioskop sementara. Poster untuk setiap film tertempel di papan yang terletak di samping pintu masuk.

Setiap kelompok membuat poster filmnya masing-masing dengan ukuran kertas A3. Sehingga peserta bisa sejenak membaca resume film, gambar, dan tim sebelum memasuki ruangan.

Setiap kelompok diberi kesempatan mempresentasikan karya mereka sebelum ditayangkan. Acara tersebut dipandu oleh satu pasang MC dan dihadiri seluruh peserta didik SMA Dominikus Wonosari.

Untuk menyempurnakan suasana, seluruh lampu dalam ruangan tersebut dimatikan. Berlangsungnya acara dimulai dengan pengundian urutan tayang movie. Keempat perwakilan diundang maju kedepan untuk mengambil undian, kemudian mempresentasikan karya mereka sesuai urutan.

Penilaian berlangsung melalui link google form berisikan voting film terfavourit pertama hingga keempat. Seluruh warga SMA Dominikus Wonosari harus mengisi form itu dan menentukan pilihannya. Pihak sekolah menyediakan hadiah bagi keempat kelompok, alat tulis yang terkemas dalam bungkusan seperti kado.

  • Penulis adalah pelajar SMA Dominikus Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan penghuni Asrama Puteri Santo Dominikus Wonosari.

Foto 2: Siswa SMA Dominikus sejenak menyimak poster film pendek sebelum penayangan.

Foto 3: Satu di antara scene dalam film pendek yang pengambilan gambarnya di lingkungan sekolah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here