PEKAN lalu, pada saat membuka laman Jesuit Asia Pacific Conference, saya terhenti karena muncul sebuah berita berjudul “Remembering Fr. Jerry Martinson, SJ”.
Benar-benar hanya sekedar berhenti saja dan itu pun dengan hanya mau membaca judul serta sekelumit pengantarnya.
Namun beberapa hari kemudian, saya baca kembali membuka halaman tersebut dan kemudian saya juga mulai melihat laman-laman lain terkait. Dari berbagai laman yang saya temukan, diberitakan bahwa Fr. Jerry Martinson SJ ini adalah seorang imam misionaris Jesuit asal California dan telah meninggal pada tanggal 31 Mei 2017 lalu di Taiwan dalam usia 75 tahun.

Tautan YouTube: Conversation with Jerry Martinson, SJ.
Ia meninggal sehari sebelum otoritas Pemerintah Taiwan berkenan menganugerahi paspor kewarganegaraan Taiwan kerena kontribusinya yang besar bagi negara tersebut selama 50 tahun karya misionarisnya. Anugerah kewarganegaraan tersebut kemudian diberikan kepada Fr. Barry Martinson SJ, saudara kandungnya yang juga menjadi seorang pastor Jesuit misionaris di tempat yang sama: Taiwan.
Mereka berdua mendapatkan anugerah istimewa: kewarganegaraan Taiwan.
Mengenang beliau saat saya jadi koster
Siapa sosok mendiang Romo George Gerald “Jerry” Martinson SJ ini?
Publik maupun umat katolik Indonesia tak banyak yang mengenalnya, kecuali para Jesuit di Ordo Serikat Jesus Provinsi Indonesia (Provindo). Utamanya, para jesuit yang aktif merasul di bidang komunikasi.
Apalagi saya, sungguh tidak mengenalnya secara pribadi.

Namun, tiba-tiba dan itu pun ingat sekelebat, sekitar tahun 1996, saya pernah bertegur sapa dengan almarhum Rm. Jerry. Tentu saja dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.
Saat itu, almarhum Romo Jerry ini tengah menginap di Pastoran SJ di Bener, Yogyakarta, dalam rangka sebuah pertemuan entah apa dengan para Jesuit Indonesia. Pada waktu itu saya menjadi koster dan penjaga tamu di pastoran tersebut.
Sore itu, entah hari apa, beliau menyempatkan diri keluar dari pastoran selepas istirahat sejenak. Ia terlihat jalan-jalan menyusuri kampung sekitar Rumah Residensi Pastoran SJ di Bener. Beliau melihat-lihat alam sekitar, sambil menyapa orang-orang yang ditemuinya dengan senyum dan keramah-tamahannya.
Barangkali orang-orang yang kebetulan ditemuinya itu mengira ada turis bule telah kesasar masuk kampung mereka.
Bisa mengenal lebih jauh siapa sosok Romo Jerry ini yang saya kenal sekilas di Pastoran SJ di Bener itu baru terjadi beberapa bulan kemudian, setelah almarhum Romo Jerry pulang ke Taiwan. Pengetahuan tentang sosok Romo Jerry ini baru saya dapatkan dari mendiang Romo Ruedi Hofmann SJ, dosen pembimbing skripsi saya, dan berikutnya dari Rm. Dedomau da Gomez SJ yang saat itu tengah berkarya di SAV Puskat.
Dari mereka berdua barulah saya tahu bahwa Romo Jerry adalah seorang Jesuit misionaris dari Jesuit Provinsi California (sekarang menjadi Jesuit West Province sejak 1 Juli 2017) yang berkarya di Taiwan. Karya yang ditekuninya adalah kerasulan media komunikasi.
Pada saat itu, saya mulai paham mengapa Romo Jerry sampai ‘terdampar’ menginap di Pastoran SJ di Bener? Terjawab sudah, bukan saja faktor kedekatan personal dengan beberapa Jesuit di Bener, tetapi juga karena sejumlah Jesuit di Pastoran Bener dan almarhum Romo Jerry SJ itu berada di medan kerasulan yang sama.
Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta
Pada akhir tahun 80-an, terbitlah buku karya Neil Postman berjudul “Menghibur diri Sampai mati”.
Sebagaimana kita tahu mulai petengahan abad 20, dan sampai kini pun masih ada anggapan bahwa televisi telah mengganti kehangatan ruang keluarga. Juga bahwa anak-anak telah meninggalkan permainan tradisionalnya dan imaginasi kita pun terbuai oleh iklan dan telenovela. Pada konteks itu, televisi sebagai bentuk tranformasi teknologi bermata ganda. Televisi bukan saja menghibur kita, tetapi juga ada penetrasi budaya tanpa terasa.
Dalam arti itulah buku Neil Postman kemudian merefleksikannya. Kini, pola itu masih berlanjut dan bertransformasi ke dalam medium yang berbeda, abad gadget. Segalanya ada di ponsel pintar kita dan memang ponselnya menjadi lebih pintar dari pemegangnya.
Menanggapi situasi itu, Jesuit Provindo mengembangkan karya komunikasi melalui SAV (Studi Audi Visual) Puskat yang dibidani pertama-tama oleh mending Romo Ruedi Hofmann SJ dan kini karya agung itu sudah diteruskan oleh RM. Yoseph Ispuroyanto Iswarahadi SJ, Rm. Murti SJ dan tentu kolaborator yang lain.
Selain itu , kita juga mengenal kerasulan huruf-huruf lainnya seperti Majalah Basis, Rohani, Utusan dan Penerbit Kanisius sebagai bagian dari karya komunikasi.

Awalnya hanya sebuah studio
SAV Puskat semula hanyalah laboratorium media untuk STKat (Sekolah Tinggi Kateketik). Di kemudian hari, SAV Puskat berkembang menjadi pusat produksi, pendidikan dan kawah candradimuka tenaga multimedia bagi para produser, penulis, editor, kameramen program TV, radio, film dan multimedia lainnya.
Berbagai penghargaan karya film dokumenter lahir dari lembaga ini. Yang terakhir berhasil memproduksi film layar lebar Soegijo yang laris manis di jaringan biosko Indonesia. Sudah ratusan bahkan ribuan praktisi televisi, radio dan multi media pernah mengalami sentuhan SAV Puskat.
Bisa disebut di sini, tahun 1990-an, semua media televisi nasional seperti RCTI, Indosiar, TPI, TVRI, MMTC Yogya dan lainnya mengirim para profesionalnya untuk dilatih di lembaga ini. (Bersambung: Serius Berkutat dengan Multimedia)
Kredit foto: www.americamagazine.org