
USKUP Terpilih Keuskupan Timika di Papua -Mgr. Bernardus Bofitwos Baru OSA- menegaskan bahwa dalam tugas penggembalaan terkait katekese, Keuskupan Timika akan memberi perhatian lebih pada katekese keluarga, kaum muda, dan perempuan. Meskipun demikian, bidang katekese lainnya, seperti liturgi, tetap mendapat perhatian.
“Saat ini, katekese keluarga, kaum muda, dan perempuan Katolik di Keuskupan Timika menjadi prioritas pelayanan, meskipun tanpa mengabaikan bentuk katekese lainnya,” ujar Mgr. Bernardus Bofitwos Baru OSA, dalam wawancara dengan Sesawi.Net.

Mulai Senin, 31 Maret 2025, Mgr. Bernardus menjalani retret di Pertapaan Trapistin Gedono hingga 5 April 2025. Sebelum itu, beliau berkenan mampir ke Provinsialat OSF untuk bertemu dengan Sr. Ellen OSF yang pernah bertugas di Papua. Kunjungan ini sekaligus menjadi momen mengenang Kota Semarang, tempat beliau pernah tinggal saat menempuh pendidikan di Kampus Pikat OSF (Kateketik IPI Filial Semarang) pada 1991-1994.
Berikut adalah pernyataan Mgr. Bernardus terkait prioritas katekese di Keuskupan Timika, yang disampaikannya dalam wawancara melalui video call dengan Sesawi.Net.
Katekese Keluarga
Katekese keluarga di Keuskupan Timika menjadi hal penting yang berjalan seiring dengan pendidikan dalam keluarga. Keluarga adalah katekis pertama sekaligus pendidik utama bagi anak-anak. Selain itu, keluarga berperan sebagai “seminari dasar,” memberi pendampingan kepada anak-anak yang memiliki panggilan menjadi imam, bruder, atau suster.
Keuskupan telah menyusun program-program katekese keluarga guna mendukung peran keluarga dalam membentuk iman dan karakter anak-anak.
Katekese kaum muda
Dalam era digital yang berkembang pesat, kaum muda menghadapi tantangan besar akibat pengaruh dunia maya. Oleh karena itu, pendampingan serius sangat diperlukan agar mereka dapat memilah informasi dan menghindari hal-hal negatif.
Gereja berupaya mengajak kaum muda untuk terlibat aktif dalam kegiatan gerejawi serta mempersiapkan masa depan mereka. Kaum muda diharapkan mampu menyikapi budaya media sosial dengan bijak, mengembangkan talenta, serta membangun keterampilan dan jaringan komunitas.
Secara khusus, kaum muda perempuan di Timika perlu didorong untuk keluar dari cara berpikir konvensional. Mereka diharapkan mengambil peran sebagai perempuan mandiri yang berkontribusi dalam masyarakat dan berpartisipasi aktif dalam Gereja.

Katekese perempuan dan pembaruan
Saat masih bertugas sebagai imam di Sorong, Mgr. Bernardus turut membentuk kelompok perempuan untuk mendorong mereka memiliki visi, identitas, dan kontribusi bagi Gereja serta pembangunan masyarakat.
Di wilayah Kepala Burung serta daerah pegunungan, budaya patriarkial masih sangat kuat. Oleh karena itu, perempuan harus berani keluar dari bayang-bayang dominasi laki-laki. Perempuan yang selama ini berada di belakang, saatnya untuk tampil ke depan, berani berubah, serta berperan aktif dalam kehidupan sosial dan gerejawi.
Keteladanan bagi perempuan
Mgr. Bernardus mengajak kaum perempuan untuk menjalankan peran mendidik anak-anak, berkontribusi bagi Gereja, dan turut serta dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di masyarakat.
Para perempuan diharapkan meneladani tokoh-tokoh seperti Santa Monika (ibu Santo Agustinus) dan Ibu Teresa. Kedua tokoh ini dikenal karena ketekunan mereka dalam doa dan tindakan nyata.
Harapannya, kaum perempuan di Timika semakin berperan aktif dalam kehidupan Gereja serta pembangunan masyarakat.