Puncta 16 Februari 2025
Minggu Biasa VI
Lukas 6: 17.20-26
SUATU pagi sebuah pengalaman di Tayap. Aku harus masak sendiri agar bisa sarapan pagi. Karena hanya ada nasi putih dan ikan asin, maka kubuat saja nasi goreng ikan asin. Untung masih punya bawang putih dan minyak sedikit.
Sedang menyiapkan nasi goreng di dapur, ada teman dari pedalaman singgah di pastoran. Aku matikan kompor dan menemui teman yang datang. Kami ngobrol sambil asyik ngopi di kamar tamu depan. Kurang lebih satu jam, teman tadi melanjutkan perjalanan ke Ketapang.
Betapa kaget dan mendongkolnya aku ketika masuk dapur, ternyata nasi goreng yang seharusnya kunikmati, sudah didahului oleh beberapa ayam yang kelaparan. Nasi goreng di wajan sudah habis “dithotholi dan dieker-eker” oleh ayamku.
Tidak ada lagi nafsu makan. Kendati perut terus berbunyi tetapi ada kebahagiaan yang menyelinap di dalam hati. Aku dikunjungi teman yang singgah, bisa ngobrol bareng dengan sukacita.
Perhatian dan penghiburan dari teman lebih dari sekedar kenikmatan nasi goreng. Lagi pula, ayamku juga bisa hidup karena mendapat jatah sarapanku.
Mereka berkeliaran dengan sukacita di kebun. Aku lapar tetapi aku bahagia. Kebahagiaan yang sulit untuk diceritakan.
Hari ini Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.”
Kepuasan itu ternyata bukan hanya karena makanan. Menderita demi teman yang mau datang itu juga sebuah kepuasan. Penderitaan yang bisa dimaknai ternyata mampu memberi kepuasan yang lebih.
Beranikah kita menderita demi kebahagiaan orang lain? Jika anda berani berkorban, anda akan menemukan kepuasan batin yang melebihi segala jenis kelaparan.
Nasi goreng dimakan ayam kesayangan,
Ayamnya bertelur di rumah tetangga.
Menderita demi orang yang tersayang,
Kebahagiaannya sungguh luar biasa.
Wonogiri, berbahagialah yang menderita
Rm. A. Joko Purwanto, Pr