Senin, 13 Agustus 2018.
Bacaan: Yeh 1:2-5.24-2:1a; Mzm 148:1-2.11-14; Mat 17:22-27.
Renungan:
BEGITU masuk kota Kapernaum, biasa ada petugas pajak bait Allah Ia bertanya kepada Petrus apakah gurunya tidak mambawa pajak Bait Allah sebagaimana diwajibkan untuk orang di atas usia 20 tahun (Kel 30:11-16). Mungkin Petrus dan Tuhan Yesus tidak membawa uang. Maka dengan spontan Petrus menjawab “memang membayar”. Dialog dengan Tuhan Yesus mengingkatkan bahwa walaupun Petrus tidak setuju dengan aturan itu tetapi supaya tidak menjadi skandal, Petrus diminta untuk membayar pajak dengan cara yang unik.
Sikap Petrus kadang juga menjadi sikap kita dalam soal pajak. Kita cenderung menghindari pajak, atau meminimalisir pajak atau bernego soal pajak. Ada beberapa alasan yang kadang kita gunakan: pajak digunakan tidak benar, pajak terlalu besar dan menyulitkan usaha, pajak menekan orang kecil bukan perusahaan besar, pajak tidak membuat kita bisa menikmati hasil jerih payah kita dll. Mungkin kita bisa tidak setuju dengan sistem atau dengan para petugasnya, tetapi kita perlu mengambil sikap Yesus yaitu untuk tetap membayar pajak sebagaimana diperintahkan oleh Hukum. Kita sekali dua kali dapat berkelit, tetapi justru membuat posisi kita menjadi sulit dan tidak menemukan kedamaian.
Kontemplasi
Gambarkan bagaimana sikap Petrus dan sikap Tuhan Yesus berkaitan dengan membayar pajak Bait Allah.
Refleksi
Apakah aku juga mengenakan sikap Tuhan Yesus berkaitan dengan kewajiban membayar pajak?
Doa
Ya Tuhan, ajarilah kami untuk bertanggungjawab terhadap kehidupan gereja dan negara dengan mengambil tanggungjawab pajak. Amin
Perutusan
Bertanggungjawablah terhadap hidup gereja dan masyarakat dengan membayar pajak.
Kredit foto: Ilustrasi (Ist)