Mane Nobiscum Domine

0
423 views
Ilustrasi - Makan bersama (ist)

Puncta 07.04.21
Rabu Oktaf Paskah
Lukas 24: 13-35

PERJALANAN Ketapang-Simpang Dua sangat jauh. Saya jarang melewati jalur pintas Perawas Teluk Melano karena tidak hapal rutenya.

Lebih dari itu, tidak ada keluarga atau umat yang dikenal untuk istirahat sejenak. Saya lebih suka melewati Tayap. Walau lebih jauh, tetapi ada tempat singgah setiap waktu.

“Jangan lupa singgahlah ke rumah kami, Pastor, kalau turun ke Ketapang atau pulang ke Simpang Dua. Rumah kami selalu terbuka setiap saat,” begitulah undangan Pak Herman.

Perjalanan panjang dan panas yang melelahkan, menempuh jarak 300-an km yang berat. Kadang muncul kesepian, seperti The Lonely Sheperd.

Sangat menyenangkan kalau ada teman ngobrol di perjalanan, bisa saling menguatkan dan menolong bila terjadi apa-apa di jalan.

Senja hari kami singgah di rumah Pak Herman. Dijamu di rumahnya sambil bercerita penuh semangat.

Makan bersama keluarga sungguh membahagiakan. Keramahan dan keakraban dalam persaudaraan iman. Itulah yang kami rasakan.

Kami merasa Tuhan hadir dalam perjamuan makan.

Setelah minum juice segar, atau kopi hangat, saya dengan penuh semangat melanjutkan perjalanan. Rumah itu menjadi Emaus yang menyegarkan.

Dua orang murid pulang ke Emaus dengan muka muram. Yang satu namanya Kleopas. Satunya anonim. Mungkin anda orangnya yang diajak masuk dalam cerita.

Yesus “nimbrung” di tengah perjalanan. Tetapi mereka tidak mengenal-Nya. Sering Tuhan menemani perjalanan kita, namun kita tidak menyadari-Nya.

Perjalanan yang penuh beban derita, duka dan kecemasan, putus asa dan ketakutan.

Ketika kita mengundang Tuhan dalam perjamuan, Tuhan hadir.

Itulah ekaristi. Barulah kita sadar bahwa Tuhan tinggal bersama kita.

Dari bacaan ini kita diingatkan agar tidak menjauh dari Tuhan dalam situasi gelap sekalipun. Kita mesti mengundang Tuhan hadir, “Mane Nobiscum Domine.”

Tuhan itu selalu hadir dalam segala peristiwa, suka dan duka bahkan yang pekat sekali pun.

Kita saja yang tidak menyadari-Nya.

Perjamuan ekaristi adalah tempat paling nyata kita bertemu dengan Tuhan. Sering-seringlah ber-ekaristi.

Setelah berjumpa Tuhan, para murid kembali ke Yerusalem. Setelah ekaristi, kita diutus mewartakan kabar sukacita kepada orang lain. Jangan lupa bermisi, berkabar gembira.

Jalan-jalan di tengah kota.
Ada gadis seperti boneka.
Jangan pernah putus asa.
Tuhan ada bersama kita.

Cawas, jangan lupa bahagia…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here