BAPERAN-BAcaan PERmenungan hariAN
Jumat, 17 Desember 2021.
Tema: Leluhur.
Bacaan
- Kej. 49: 2, 8-10.
- Mat. 1: 1-17.
MANUSIA tidak pernah sendiri. Ia ada bersama dan di tengah-tengah kebersamaan dengan yang lain.
Walau ia ditinggal oleh pasangan atau anak-anaknya. Ia tidak sendiri, apalagi sendirian.
Manusia adalah pribadi yang menyejarah.
Ada jejak tapak yang terekam. Ada sesuatu yang ditinggalkan. Kenangan.
Di tengah-tengah sejarah manusia beberapa orang dikenang. Ia menyatukan diri dalam sejarah kebaikan kemanusiaan yang abadi.
Segelap apa pun sejarah pribadi; seburuk apa pun sejarah manusia ada sesuatu yang dikenang.
Semuanya tertuju pada satu hal yang sama: pembelajaran bagi generasi berikut. Belajar sejarah berarti mencipta hidup lebih baik.
Ada kesadaran moral bersama.
Kesulitan apa pun, ia meninggalkan “warisan”. Minimal kenangan indah.
Keluarga adalah tempat di mana kenangan diukir dan diabadikan. Ada tali kasih sekaligus kenangan antar generasi.
Di hatinya, kenangan itu tersimpan dan terpatri. Ia menjadi kekuatan mengarungi kehidupan dengan harapan suatu saat akan berjumpa kembali.
Sebuah pengharapan.
“Apa kabar Ma?” sapaku pada seorang ibu.
Ia sedang makan sendiri. Buru-buru menyelesaikan. Mencuci mulut dan tangan.
“Silakan duduk Pak,”
Saudaranya yang bersama dengan saya berkata, “Ini Romo. Mau memberi Tubuh Kristus.”
Si Emak itu berkata, “Maaf Romo. Saya tidak tahu, karena belum pernah jumpa.”
“Nggak apa-apa Mak. Semoga senantiasa sehat?”
“Sehat romo!
“Mak tinggal dengan siapa?”
“Sendiri.”
“Berapa umurnya sekarang Mak?”
“86 tahun.”
“Aduh masih kuat ya. Hebat. Sehat selalu ya. Mak masak sendiri?”
Ada ponakan yang nganter. Banyak saudara di sini. Kadang beli.
“Kenapa tidak ikut anak? Bisa sekalian bergurau dan momong cucu.”
Tiba-tiba dia menangis. Tangisan seorang ibu single berumur 86 sangat menyentuh. Suasana menjadi haru. Kami pun terdiam sejenak.
Tiba-tiba dia bangkit berdiri. Ia menggandeng saya. Diperlihatkan foto keempat anaknya; keluarga besarnya juga.
“Saya sudah tidak bisa ke gereja. Saya sendiri. Sudah tua. Sulit, kalau berjalan jauh. Kendaraan pun tidak ada. Saya berjanji tanggal 25 nanti akan ke gereja. Saya tidak tahu nasib saya lagi.”
Ia pun menangis lagi. Terlihat betapa sedih wajahnya.
Makasih. Romo mau datang ke rumah saya. Rumah tua dan berantakan. Tidak bersih. Romo berkenan datang menghantar Hosti Suci. Terima kasih romo. Terima kasih.”
Begitulah keluh seorang ibu. Ia tidak bisa lagi ke gereja karena masalah dengkul. Selama pandemi tidak ada lagi yang mengirim komuni suci.
Ia sungguh rindu akan Tuhan. Saya mengerti betapa sedihnya. Tidak bisa ke gereja. Tidak dapat berjumpa dengan yang lain. Tidak menerima Tubuh dan Darah Kristus.
Mak ini tetap sedih dan menangis. Dengan terbata-bata ia berkata, “Saya sedih Romo. Hidup seorang diri. Suami sudah lama meninggal. Sekarang saya sangat sedih. Tiga dari empat anak meninggal dalam waktu berdekatan.
“Kenapa ya Tuhan memanggil mereka dan membiarkan saya sendiri.”
Mereka meninggal karena serangan jantung. Ada yang kena kanker. Ada yang karena sakit.
Ia menarik lenganku dan memperlihatkan foto keluarga, khususnya anak-anaknya yang sudah meninggal.
Saya hanya diam. Kupegang pundaknya dari belakang. Kucoba memahami dan merasakan kesedihannya.
“Mereka kembali ke rumah Tuhan, Mak,” kataku menyakinkan.
“Terlampau cepat Romo. Tiga anak ini berturut-turut diambil.”
Saya menyadari betapa kebersamaan hidup sangat berharga.
Bagaimana keluargamu?
Dalam terang kebangkitan, Matius menulis silsilah Yesus. “Jadi seluruhnya ada: 14 keturunan dari Abraham sampai Daud, 14 keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan 14 keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.” ay 17.
Tuhan, terimakasih atas penerusan iman dan penyertaanmu dalam keluarga kami. Amin.
————–
Romo.. Terima kasih untuk ceritanya
Sangat inspiratif.
Menyemangati saya untuk sowan para pinisepuh setiap minggu.