Renungan Harian
Selasa, 23 November 2021
Bacaan I: Dan. 2: 31-45
Injil: Luk. 21: 5-11
BEBERAPA waktu yang lalu, saya memimpin perayaan ekaristi untuk persiapan pesta perkawinan (midodareni) dan pada saat yang sama adalah pesta perak perkawinan orang tua calon pengantin perempuan.
Pada saat kotbah, saya minta bapak pengantin perempuan untuk memberi nasihat kepada calon pengantin yang bertolak dari pengalaman 25 tahun hidup perkawinannya.
“Anakku, saat ini kalian saling mengagumi satu sama lain, tetapi jangan hanya berhenti pada kekaguman itu. Karena apa yang sekarang mengagumkan dan menarik itu bisa berubah setiap saat, cepat atau lambat.
Apa yang penting adalah menemukan kekaguman yang lebih dalam dan paling dalam yaitu penyerahan diri satu sama lain. Dan dengan itu kalian akan saling menghormati dan mencintai dengan tulus.
Anakku yang kucintai, kalau kamu sekarang ini melihat bapak dan ibumu nampak sudah mapan, bahagia dan saling mencintai, semua buah perjalanan panjang. Dan perjalanan itu tidak semua mulus, mudah menyenangkan.
Usaha bapak untuk mengerti dan mencintai ibumu dan sebaliknya penuh dengan luka dan airmata.
Ada kalanya kami bisa saling mengerti, tetapi banyak juga kami tidak saling mengerti. Ada saat dimana kami merasakan cinta yang berbunga-bunga dan berkobar-kobar, tetapi ada masa dimana kami merasa jenuh dan menjalani hidup seperti tidak ada gairah cinta.
Nduk cah ayu, membangun ekonomi rumahtangga juga tidak kalah sulitnya. Perjalanan ekonomi keluarga kita seperti jet coaster, suatu saat kita di atas, tetapi juga terjadi masa di mana kita tidak punya apa-apa. Bahkan untuk makan esok hari, kami tidak tahu harus mendapatkan dari mana dan dengan cara apa.
Nak, semua itu akan terjadi dan akan kamu alami, maka yang penting adalah selalu bersandar pada kasih Allah. Waspadalah tetaplah eling, ketika saat itu tiba dan harus kamu alami, jangan pernah kehilangan arah dan pegangan.
Hendaklah selalu berpegang pada harapan pada belas kasih Allah.
“Gusti ora sare” nduk, Tuhan pasti memberikan rahmatnya.
Maka jangan pernah berpaling dari-Nya dan jangan pernah merasa hebat dan kuat,” nasihat yang diberikan bapak itu dengan penuh haru.
Mendengarkan nasehat bapak kepada puterinya itu banyak tamu yang hadir ikut larut dalam keharuan.
Nasihat yang luar biasa buah perjalanan panjang hidup perkawinannya. Nasihat yang diberikan sebagai bekal perjalanan puterinya untuk mengarungi bahtera kehidupan.
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Lukas, Yesus memberikan nasihat kepada para muridNya:
“Waspadalah jangan sampai kalian disesatkan.”