Puncta 3 April2025
Kamis Prapaskah IV
Yohanes 5: 31-47
SEBUAH nasihat sering disampaikan kepada kita berbunyi, “Lebih baik menyalakan lilin kecil di tengah kegelapan daripada mengutuki kegelapan”.
Hidup harus bisa berguna menjadi cahaya bagi sesamanya. Tidak hanya mengeluh dan meratapi keadaan yang gelap.
Tindakan sekecil apapun yang dapat memberi pencerahan di sekitar kita akan sangat bermanfaat, daripada kita hanya mengeluh dan menyesali kegelapan.
Membuang sampah di tempat yang disediakan misalnya adalah contoh nyata. Membiasakan budaya antri, taat aturan di jalanan, membiasakan disiplin atau tepat waktu adalah tindakan-tindakan kecil yang bisa menerangi kehidupan bersama.
Tindakan itu seperti sebuah pelita yang bernyala di tengah kegelapan.
Yesus menunjukkan kepada orang banyak bahwa Yohanes adalah pelita yang bernyala di tengah kegelapan. Dia memberi kesaksian tentang kebenaran. Tetapi orang-orang tidak mau mempercayainya.
Begitu pula dalam Perjanjial Lama, Allah mengutus Musa sebagai pembawa terang bagi Bangsa Israel. Tetapi mereka sering menyeleweng dan mencari jalannya sendiri.
Yesus hadir sebagai Terang, namun manusia tidak mau menerima-Nya.
Allah sendiri nanti yang akan menjadi hakim bagi mereka yang tidak mau mendengarkan pewartaan-Nya. Allah telah mengutus nabi-nabi untuk mengingatkan kita. Ia juga telah mengutus Putera-Nya sendiri agar kita percaya.
Yesus juga menyuruh kita menjadi pelita bagi dunia sekitarnya. “Kamu adalah Terang Dunia. Kamu adalah garam dunia.”
Dengan teladan Yesus, marilah kita menjadi pelita dan garam di tengah masyarakat.
Garam walau sedikit berguna bagi masakan.
Pelita walau kecil jadi penerang di sekitarnya.
Teladan sederhana berguna bagi kehidupan.
Jadikan hidupmu agar bisa berguna bagi sesama.
Wonogiri, jadilah pelita yang bernyala
Rm. A. Joko Purwanto, Pr