Minggu Adven IV, 22 Desember 2019
Bacaan Injil: Mat. 1:18-24
Saudari/a ku ytk.,
APAKAH Anda pernah bermimpi saat tidur? Pernahkah mimpi itu menggelisahkan hatimu pada hari-hari berikutnya?
Saya pernah gelisah dengan mimpi yang saya alami. Ketika tingkat V tahun 2009 di Seminari Tinggi St Paulus Kentungan Jogja, saya sempat mau mundur dari panggilan menjadi imam karena rumah keluarga roboh akibat gempa 2006, kakakku meninggal dunia tahun 2007, dan adikku butuh biaya sekolah. Aku ingin keluar dari Seminari agar bisa bekerja dan membantu orangtua.
Tapi saat tidur saya bermimpi. Saya diajak jalan-jalan Mgr Suharyo di kebun belakang seminari. Dalam mimpi itu, Mgr Suharyo bertanya: “Frater, maukah memotong rambut saya?” Saya bingung beberapa saat. Akhirnya saya berani menjawab, “Ya, Monsinyur. Saya mau”.
Mimpi itu menjadi cara Tuhan membimbing saya untuk melangkah ambil keputusan. Bersama pembimbing rohani, alm. Rm Darmawijaya Pr, saya dibantu untuk memaknai mimpi itu. Dengan diminta memotong rambut Bapa Uskup, saya diajak untuk mengurangi atau memotong beban Bapa Uskup. Imam mengambil bagian dalam imamat uskup. Imam diosesan adalah rekan kerja, pembantu Bapa Uskup.
“Dadi Romo ki mbantu Uskup, ora malah ngrepoti Uskup”, begitu pitutur Rama Darmawijaya kala itu. Akhirnya, saya mantap terus di panggilan imamat ini.
Dan mimpi itu menjadi “puncak” bimbingan Mgr. Suharyo kepada saya, mengingat setiap tahun sejak di Seminari Tahun Orientasi Rohani Jangli (2002) sampai dengan tahun terakhir di Seminari Tinggi Kentungan (2010) saya colloqium dengan Mgr Suharyo selaku Uskup Agung Semarang kala itu. Dan tahun 2010 beliau diutus Sri Paus menjadi Uskup Agung Jakarta.
Jangan meremehkan mimpi. Mimpi bisa menjadi cara Tuhan menyatakan kehendak-Nya untuk membimbing umat-Nya. Dalam mimpinya, Yusuf menemukan jawaban dari masalah yang dihadapi. Tunangannya, Maria, hamil bukan darinya.
Tuhan menunjukkan solusi atas permasalahan lewat malaekat yang berkata; “Yusuf anak Daud, jangan takut mengambil Maria sebagai isterimu, karena anak yang dikandung berasal dari Roh Kudus”.
Bacaan Injil pada Minggu Adven IV ini mengungkapkan sosok Santo Yusuf. Ia pribadi yang saleh, taat, tidak banyak bicara, dan tulus. Paus Fransiskus bersharing tentang patung Santo Yusuf yang tidur. Sri Paus berkata, “Saya mau menceritakan sesuatu yang sangat personal. Saya sangat mencintai Santo Yusuf. Dia adalah pribadi kuat dalam diamnya. Di meja saya, saya mempunyai sebuah patung Santo Yusuf yang sedang tidur”.
“Meskipun ia tidur, ia menjaga Gereja. Dia bisa melakukan hal itu. Ketika saya mempunyai masalah atau kesulitan, saya menuliskan masalah dan problem saya dalam secarik kertas dan meletakan di bawah patung itu, sehingga ia bisa memimpikan semua itu. Marilah kita berdoa kepada Santo Yusuf ketika kita menemukan kesulitan dan masalah hidup”, ajak Paus Fransiskus.
Gereja menghormati Santo Yusuf karena kekudusan dan martabat Maria sebagai Bunda Yesus, Putra Allah. Pada 8 Desember 1870 Paus Pius IX menetapkan Santo Yusuf sebagai pelindung Gereja Universal.
Santo Yusuf memberi kita teladan bagaimana kita perlu jeli dan peka memahami kehendak Tuhan (maneges kersa Dalem Gusti).
Pertanyaan refleksinya: apakah Anda peka terhadap mimpi Anda selama ini? Bagaimana suasana hati Anda hari-hari ini? Apakah Anda sedang gegana (gelisah, galau dan merana)?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Seminari Mertoyudan# (Y. Gunawan, Pr)
NB:
Selamat Hari Ibu ya gaesss… Mari kita doakan ibu kita secara khusus hari ini.