PENGINAPAN selama berwisata di luar negeri itu urusan maha penting untuk kategori pelancong dengan dukungan dana pas-pasan atau jenis berwisata mandiri ala backpacker-an. Saya masuk kategori dua-duanya: suka berwisata mandiri, tidak mau tergantung pada kelompok tur atau tour guide, dan tentu saja uang saku juga masuk kategori “isi dompet tipis”.
Karena itu, mencari penginapan murmer itu urusan mahapenting untuk saya dan rombongan yang berjumlah empat orang dan mereka itu perempuan semua. Dengan demikian, mencari lokasi penginapan yang murah meriah disertai rasa aman, dekat dengan pusat kota dan lokasi wisata menjadi pertimbangan sangat penting di sini.
Jauh-jauh hari sebelum tiba di Chiang Mai, Thailand, urusan mencari tempat inap di mana menjadi hal utama yang harus kami lakukan sebelum kaki lima pelancong Indonesia ini sampai menjejakkan kakinya tiba di Negara Gajah Putih ini.
Dari sekian opsi yang tersedia di banyak aplikasi wisata seperti TripAdvisor, Booking.com, Traveloka, dan Airbnb, kami akhirnya memilih penginapan yang murmer dan paling dekat dengan Old City of Chiang Mai dan tidak jauh dari aneka fasilitas umum: pasar tradisional, angkot, mal, lokasi wisata, dan warteg.
JJ Guest House of Chiang Mai
Ni hao ma. Adalah sapaan hangat yang kami terima, ketika saya dan empat anggota rombongan memasuki JJ Guest House di sebuah gang sempit di kawasan Old City of Chiang Mai, sekitar sejam penerbangan dari Ibukota Bangkok.
Sapaan itu berarti “Apa kabar” dalam bahasa Mandarin. Ucapan penuh kesantunan itu diucapkan oleh dua gadis muda dari Tiongkok yang belakangan baru saya ketahui namanya Wangliwen.
Ia berasal dari Guangxi dan tengah menjalani masa magang kerja di Chiang Mai dan mendapat tempat kerja di JJ Guest House.
Mungkin karena teman saya dan keluarganya ngomong Tiochu dengan wajah-wajah tirus sedikit bermata sipit, maka ni hao ma itu diucapkan oleh Wangliwen dan temannya sesama warga Tiongkok kepada rombongan kami.
Sebagai tempat penginapan, JJ Guest House ini sungguh laris manis. Walau berlokasi di sebuah gang sempit –namun akses mobil jenis minivan pun tetap bisa masuk—JJ Guest House rupanya menjadi lokasi penginapan favorit bagi banyak wisatawan asing: Tiongkok, Eropa, Asia-Pasifik termasuk Indonesia.
Selain murah-meriah, JJ Guest House menawarkan banyak fasilitas yang apik untuk layanan akomodasinya: bersih, tertib, ramah pengelolanya, dan sangat suka membantu tamu manakala butuh bantuan ala kadarnya seperti minta air panas atau kamarnya dibersihkan.
Saya dan rombongan sering minta bantuan mereka dalam bentuk persediaan air panas untuk menyeduh kopi dan teh, informasi wisata, lokasi makan murmer di pasar tradisional atau warteg, dan tujuan wisata mandiri.
Tentang yang terakhir ini, untunglah bahwa di JJ Guest House ini ada Mr. Paolo Chan, seorang pemandu wisata berlisensi resmi dari jawatan pariwisata Thailand.
Nama “JJ” itu sendiri, demikian kata Mr. Chan, diambil dari nama kecil pemiliknya.
Super murah meriah
Kami menginap dan menghabiskan hari-hari wisata kami di JJ Guest House selama enam malam tujuh hari.
Untuk jasa menginap selama 6 Nights & 7 Days di Chiang Mai ini, JJ Guest House mematik harga 4.800 Thai Baht atau sekitar Rp 2.174.400,00 (Dua juta rupiah, seratus tujuh puluh empat, empat ratus rupiah) dengan nilai kurs rupiah terhadap Thai Baht di pertengahan bulan Desember 2018 sebesar Rp 453,00 per 1 Baht-nya.
Jasa inap di JJ Guest House di Chiang Mai ini masuk kategori murah meriah, karena beberapa faktor di bawah ini:
- Waktu inap adalah tujuh hari.
- Lokasinya sangat strategis, bisa dijangkau dengan mobil dan bisa berhenti di depan rumah penginapan.
- Bisa dijangkau hanya 30 menit dari Bandara Internasional Chiang Mai.
- Berlokasi di Old City.
- Lokasinya dekat pasar tradisional (400 meter).
- Tersedia aneka jenis warung kelontong model kekinian seperti 7Eleven yang hanya berjarak 100 meter.
- Menawarkan berbagai lokasi destinasi wisata kelas internasional yang bisa dijangkau dengan hanya jalan kaki.
- Plus layanan persona dengan sentuhan ramah dan santun khas orang Thailand seperti yang dilakukan Wangliwen (meski dia berasal dari Tiongkok), Paolo Chan –sang pemandu wisata yang kocak dan hangat, serta Natchupha Kunlatthamdilaeo –la concierge super ramah yang pernah mendaki Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda beberapa waktu silam.
Opsi penginapan lain tidak kami pilih, lantaran pertimbangan di atas tidak masuk “kategori”. Selain lokasinya jauh dari Old City, harganya juga “selangit”.
Untuk kurun waktu inap yang kami minati, sebuah hotel bintang dua bisa mematok harga tidak kurang Rp 10 juta. Lainnya malah pasang harga lebih tinggi.
Padahal, urusan melancong di luar negeri itu bukan pertama-tama menginap di tempat luks atau serba “enak”, melainkan mencari lokasi strategis dengan harga terjangkau kantong.
Lain-lainnya itu sifatnya tambahan saja. (Berlanjut)
Traveling Dua Pekan ke Thailand: WA dan Telepon, Pakailah Kartu Lokal Tourist SIM Card (4)