“WINTER is Coming” tiba-tiba mengguncang dunia. Pesan yang disampaikan Presiden Jokowi dalam pembukaan Sidang Paripurna Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional – Bank Dunia 2018 di Nusa Dua, Bali, beberapa waktu lalu, seolah menyihir perhatian masyarakat dunia. Media massa dan pemimpin global memujinya.
Koran The New York Times mencetak berita utama dengan judul yang prestisius. “Winter is Coming: Indonesia Warns World Finance Ledears Over Trade War”.
Ini cuplikan salah salah satu kalimat yang tertulis di dalamnya: “Everyone stands to lose if trade wars are allowed to escalate” (October 12, 2018)
Yang terjadi di HBO Asia lain lagi. Meme berwajah Presiden Jokowi, berbadan Ned Stark, salah satu tokoh di Game of Thrones, dipajang di laman mereka dengan tulisan: “Bersiaplah, Musim Dingin Akan Datang”. (Detik.com, 12 Oktober 2018, 18.41)
Banyak orang awalnya tak mengerti apa arti slogan itu. Saya termasuk di dalamnya.
Ternyata, Presiden Jokowi sedang memperingatkan pemimpin-pemimpin dunia, bila mereka terus bertikai untuk memenangkan perang dagang di antara mereka, maka bencana bagi seluruh dunia akan datang.
Lebih khusus lagi, Presiden Jokowi menyasar negara-negara adidaya, seperti Amerika dan Tiongkok, agar menyudahi pertikaian itu, duduk bersama dan mencari penyelesaian untuk kepentingan dunia yang lebih luas.
“Winter is Coming” adalah sebuah ungkapan yang mengandung arti: “Malapetaka akan datang, bencana akan tiba, penderitaan segera dirasakan”.
Perang dagang, perang moneter, perang fiskal, perang ekonomi atau apa pun istilahnya yang berkelanjutan dengan melibatkan raksasa-raksasa dunia, sama sekali tak ada manfaatnya, sekali pun bagi negara pemenangnya. Kehancuran bersama sedang menanti di depan sana.
Pesan itu sebetulnya tidak hanya berlaku untuk negara adidaya saja. Siapa pun, individu atau kelompok, komunitas atau masyarakat, bangsa atau dunia, tak bisa lepas dari konsekuensi itu.
Amerika tak bisa menjadi pemenang sendirian, karena bila itu terjadi, negara itu pun, akhirnya hancur. Keseimbangan alam mengaturnya dengan sangat bijak.
Orang kaya yang hidup di lingkungan miskin tak akan mendapatkan kebahagiaan sejati. Orang pandai harus lebih dulu mendukung dan mendorong kaum di sekitarnya untuk berpikir maju, sebelum dirinya mampu berkiprah.
Orang tak bisa sukses sendirian, karena keberhasilannya digondeli oleh mereka yang gagal. Bumi mengatur dirinya dengan sangat cerdas dan manusia harus taat kepada hukum alamNya.
Dalam skup yang lebih kecil, transaksi apa pun lebih baik berakhir dengan win-win. Win-lose atau lose-win tak bertahan lama karena cepat atau lambat berubah menjadi lose-lose. Pembeli yang merasa “menang” karena berhasil menawar harga barang dari pedagang kecil dengan sangat murah, akhirnya kehilangan semuanya karena pedagang itu bangkrut. Negosiasi dengan cara memojokkan pihak lain hingga terpaksa menyerah, tak akan membuahkan hasil akhir yang menguntungkan bagi keduanya.
RM Panji Sosrokartono (1877-1952), cendekiawan dan pujangga ulung yang pernah dimiliki bangsa Indonesia dan dihormati dunia dengan sebutan “Si Jenius dari Timur” dan “De Javaanse Prins”, menasehati hal ini dengan peribahasa yang sangat pas.
“Menang tanpa ngasorake. Sugih tanpa bandha. Digdaya tanpa aji. Nglurug tanpa bala”.
“Menang”, tanpa ada pihak lain yang merasa kalah. “Kaya”, kaya hati, kaya sahabat, kaya amal saleh, selalu merasa cukup, karena hidupnya tak tergantung pada harta. “Sakti” tanpa pusaka, karena kesaktian datangnya dari Yang Maha Kuasa. “Menyerbu” tanpa pasukan, karena hanya berani bila benar.
Prinsip “harus menang”, selalu mendatangkan “musim dingin” yang mencemaskan. Yang kalah hancur berantakan, yang menang akhirnya menderita. Ini berlaku untuk semua tingkat sosial, semua fungsi, semua interaksi dan transaksi.
Bila mengharap “musim dingin” tak datang, hindarilah kontestasi dan persaingan yang tak sehat, yang hanya memimpikan kemenangan tunggal, yang lain menjadi pecundang. Jangan menganut prinsip “lebih baik hancur semuanya daripada menang bersama, tiji-tibeh”, (Mati siji-mati kabeh – Mati satu, mati semua). Ubah mindset dari menang-kalah, atau kalah-menang menjadi menang-menang. Bangun teamwork dan sinergi, dengan motto “peduli dan kemenangan bersama”.
“Now, winter is coming. We must protect ourselves. Look after one another” – (Ned Stark – Tokoh dalam novel dan film seri TV “A Game of Thrones”)