HARI kemarin, tepat tanggal 2 April 2025, kita mengenang 20 tahun wafatnya Paus Yohanes Paulus II – sosok yang proses kanonisasinya berlangsung dengan sangat cepat. Saat beliau meninggal, spanduk-spanduk bertuliskan Santo Subito! bertebaran di berbagai sudut kota. Itulah seruan umum agar beliau segera diangkat menjadi santo.
Ikut misa requiem
Saya menghabiskan waktu tinggal selama 12 tahun di Roma. Satu tahun sebelum kepulanganku ke tanahair, ketika Paus Yohanes Paulus II meninggal, saya kembali berbuat “nakal.”
Undangan untuk berpartisipasi dalam Misa Requiem saya hadiahkan kepada mereka yang sangat ingin menghadiri misa pemakaman pontifikal. Sementara itu, saya sendiri memilih bergabung dengan para wartawan yang meliput momen langka ini dari atap sebuah apartemen. Bersama para jurnalis dari Asia dan Amerika Latin. Dari Indonesia, ada wartawan RCTI.
Timbul masalah: tidak ada buku panduan misa. Mereka pun bertanya kepada saya, “Apakah Anda tahu urutan dan tata cara Misa Requiem Kepausan?”
Jelas saya tidak tahu. Dalam studi filsafat dan teologi pun, tidak ada mata kuliah khusus tentang Misa Requiem Kepausan. Saya hanya bisa menjawab setengah bercanda.
Melihat kebingungan mereka, saya mendapatkan ide “nakal.” Saya yakin di Lapangan Santo Petrus pasti tersedia buku panduan misa untuk para tamu VVIP.
Bagaimana tidak? Ada 115 kepala negara -termasuk presiden, perdana menteri, dan raja atau ratu- yang akan menghadiri upacara ini. Saat itu sudah pukul 02.30 dinihari waktu Roma. Ribuan orang sudah berkerumun di sekitar basilika. Sementara saya masih berada di rooftop bersama para wartawan dari berbagai negara.
Entah ini ilham dari Roh Kudus atau “roh” yang lain, saya meminta semua wartawan yang hadir untuk mengumpulkan kartu identitas pers mereka. Satu kartu nama pers untuk satu media. Saya pun mengenakan kalung-kalung identitas itu di leher saya dan berkata kepada mereka, “Saya akan merangsek ke ring 1. Doakan saya supaya berhasil.”
Dalam perjalanan, saya sempat iseng menengok ke Sungai Tiber. Waah… waah. Pasukan NATO tampak sedang mengatur strategi mereka. Pengamanan begitu ketat, namun nyaris tak terlihat…
Satu per satu, saya melewati lapisan keamanan. Dari ring 4… tembus ke ring 3… lanjut ke ring 2… akhirnya sampai di ring 1. Dengan berbagai lobi yang tidak mudah, saya berhasil membawa 50 buku panduan misa.
Saya bukan siapa-siapa, hanya wong Solo yang berbekal aji-aji sirep – dan entah bagaimana, saya bisa menembus pertahanan berlapis itu.
Buku-buku panduan misa itu saya bagikan kepada para wartawan. Ada yang nyeletuk, “Anda ini seorang uskup? Atau bekerja di Vatikan?” Saya hanya tertawa dan menjawab, “Bukan. Saya orang biasa.”
Mereka pun tidak percaya.
Hari kemarin, kita mengenang kembali Paus Yohanes Paulus II – seorang pemimpin Gereja yang benar-benar suci.
Santo Yohanes Paulus II, doakanlah kami.
Yustinus Sulistiadi