- Bacaan 1: 2Raj. 5:1-15a
- Injil: Luk. 4:24-30
Sebagai “Bangsa Terpilih” kadang Bangsa Israel terkesan sombong (merasa superior). Padahal mereka (dipilih) diutus untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain (Yes 49:6).
Dalam bacaan hari ini, Tuhan Yesus mengutip kisah Nabi Elia dan Elisa yang berkarya bukan untuk Bangsa Israel saja namun juga terbuka bagi bangsa-bangsa lain (janda Sarfat, orang Sidon dan Namaan orang Syria). Kisah kedua nabi menunjukkan bahwa Allah sangat terbuka bagi bangsa-bangsa lain (universal).
Kisah ini sangat menyinggung orang-orang di Nazareth yang sedang mendengarkan pengajaran-Nya. Seolah Tuhan Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Mesias yang datang bukan hanya untuk orang Yahudi, tetapi juga untuk bangsa-bangsa lain.
Mereka terlalu posesif bahwa Allah hanya milik Bangsa Israel saja.
Mereka marah karena Yesus tidak sesuai dengan harapan mereka. Apalagi sebagai “AKAMSI” (Anak Kampung Sini) mereka tahu betul latar belakang Tuhan Yesus yang “hanya” Anak Tukang Kayu, ada kesan meremehkan pula. Akhirnya mereka berusaha membunuh-Nya dengan melemparkan-Nya ke jurang.
“ku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.”
Dengan kuasa Ilahi-Nya, Dia berhasil melewati kerumunan yang penuh amarah itu tanpa cedera (Lukas 4:30).
Ini menunjukkan bahwa meskipun manusia menolak-Nya, rencana Allah tetap berjalan.
Kisah Nabi Elisa yang menyembuhkan Panglima Kerajaan Syria, Naaman diceritakan dengan jelas pada bacaan pertama. Meskipun Naaman orang Syria (non Yahudi bahkan musuh Bangsa Yahudi), namun Tuhan tetap berkenan memberikan berkat-Nya untuk menyembuhkan sakit kustanya. Naaman (orang yang tak mengenal Allah) pun sembuh lalu mengakui dan percaya ke-Maha Kuasa-an Allah Bangsa Israel.
“Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!”
Pesan hari ini
Allah itu universal (milik semua bangsa), melampaui etnis.
Tuhan Yesus mengajarkan bahwa sebagai pengikut-Nya, kita tidak akan selalu diterima meski di lingkungan sendiri. Bahwa penolakan dan penganiayaan adalah bagian dari perjalanan iman kita sebagai orang Katolik.
Namun rencana Keselamatan Tuhan tetap jalan selamanya.
“Cinta sejati adalah memberikan kebebasan kepada orang yang kita cintai untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa memaksakan kehendak kita padanya.”