Selasa, 25 Januari 2022
- Kis. 9:1-22/ Kis. 22:3-16.
- Mzm: 117:1-2.
- Mrk. 16:15-18
MANUSIA akan selalu disodori dengan banyak pilihan dalam hidupnya untuk mencapai keselamatan.
Seluruh kisah keselamatan manusia adalah kisah Allah yang berusaha menawari cinta dan menyambut manusia.
Namun demikian, Tuhan senantiasa memberikan manusia kebebasan dalam menentukan cara mereka menjalani hidupnya.
Setiap langkah yang manusia pilih tidak sepenuhnya dapat memilih sendiri. Sebab selalu ada suara hati yang Tuhan pakai untuk memberikan manusia ruang dan kesempatan. Agar dapat memikirkan apa sebab akibat yang dapat ditimbulkan dengan pilihannya itu.
“Jika saya melihat kembali perjalanan hidup saya, selalu berpulang pada kisah Allah yang begitu indah,” kata seorang bapak.
“Saya pernah ada di titik nadir kehidupan ini, saya meninggalkan keluarga untuk mengejar kesenangan, meski tidak satu pun orang yang tahu,” lanjutnya.
“Saya selalu menyimpan rapi kedurhakaanku,” ujarnya.
“Hingga suatu hari, saya sakit dan perlu perawatan,” kisahnya.
“Saat itulah saya sadari betapa naifnya saya, betapa bodohnya saya. Karena waktu sakit, isteri dan anakku yang merawatku dengan kesabaran dan penuh kasih sayang,” ujarnya.
“Setiap malam mereka bergiliran tidur di kursi samping ranjangku. Dan dengan sigap membantuku jika aku perlu sesuatu,” katanya lagi.
“Saat itulah, saya berjanji jika Tuhan mengaruniakanku kesembuhan, saya akan gunakan kesempatan itu untuk sepenuh hati kembali pada mereka, mencintai mereka,” ujarnya lagi.
“Saya telah menyia-nyiakan anugerah permata hidup ini,” katanya
Dalam bacaan Injil kita dengar demikian,
“Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.
Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,”
Bahasa baru setiap orang seringkali terucap setelah mengalami gelombang dan badai dalam perjalanan kehidupan ini.
Manakala orang bisa melihat bagaimana Tuhan, bersama-Nya dalam kehidupan yang dijalani bahkan ketika dia ada di lembah dosa.
Pengalaman diangkat dan diselamatkan Tuhan menuntun manusia untuk mengubah hidup dan bahasa kehidupannya.
Bahasa kasih yang tertuju pada sukacita dan kebahagiaan sesama bukan demi keinginan dan kepentingannya sendiri.
Bagaimana dengan diriku?
Apakah aku punya bahasa baru tentang Tuhan dan kehidupanku?