Home BERITA Jangan Biarkan Garam Menjadi Tawar

Jangan Biarkan Garam Menjadi Tawar

0
Menjadi terang dan garam by ist

Selasa, 7 Juni 2022

  • 1Raj. 17-7-16.

Mzm: 4:2-3.4-5.7-8.

Mat. 5:13-16

SETIAP orang memiliki sesuatu yang baik di dalam dirinya.

Ada yang bisa mengoptimalkan kebaikannya bagi hidupnya sendiri dan bagi sesamanya.

Namun tidak sedikit orang yang menyembunyikannya, bahkan ada yang menolaknya, hingga kebaikan itu tidak pernah berdampak hidup ini.

“Dengan orang seperti itu, mengapa kamu masih mau membantu?” tanya seorang ibu kepada sahabatnya.

“Mereka itu tidak tahu diri, sudah banyak kamu tolong tetapi masih saja tega menusuk kamu dari belakang,” lanjutnya.

“Kalau aku jadi kamu, pasti aku tidak akan pernah membantu mereka lagi,” lanjutnya lagi.

“Jika aku membalas perilaku mereka, lalu apa bedanya aku dengan mereka,” jawab sahabatnya dengan kalem.

“Dalam kondisi mereka yang sulit dan mereka masih ingat aku, berarti di dalam hati mereka, mereka mengakui bahwa keadaanku lebih baik dari mereka, dan ketika mereka minta tolong berarti mereka masih percaya padaku bahwa aku bisa menjadi penumbuh harapan mereka,” sambungnya.

“Bisa saja aku mengabaikan permintaan mereka namun jika itu aku lakukan apa bedanya aku dengan mereka. Hati kecil saya pun akan terusik dan merasa bersalah, mengapa saya tidak menolong orang yang membutuhkan,” tegasnya.

“Kamu terlalu lemah dan tindakanmu itu tidak memberi pelajaran yang baik kepada mereka,” sahut ibu itu.

“Jika kamu selalu menyanggupi permintaan mereka, mereka akan menyepelekan kamu, dan memanfaatkan kelemahanmu demi keuntungan mereka,” lanjutnya.

“Jangan merasa sakit hati jika mereka akan mengecewakan kamu pada saat mereka tidak merasa butuh kamu,” kata ibu itu dengan keras.

“Saya tahu semua bisa terjadi, mereka bisa melakukan tindakan yang mengecewakan saya. Namun bagi saya, lebih baik bertindak sesuatu yang positif daripada saya membiarkan orang yang minta tolong, saya biarkan terlantar,” sahutnya dengan tegasnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”

Meskipun tindakan baik yang kita lakukan sering tidak diperhatikan dan kurang dihargai, hendaklah kita senantiasa memberikan pengaruh yang positip.

Sebagai garam dunia kita terpanggil untuk menjalankan peranan melanggengkan norma-norma yang baik, menghindarkan dunia dari kerusakan, serta berbuat sesuatu untuk kebaikan dan menolong orang lain untuk melakukan kebaikan.

Kehidupan dan perbuatan kita yang tidak menunjukkan komitmen untuk menjalankan apa yang dikendaki Tuhan dapat diibaratkan seperti garam yang telah menjadi tawar dan tidak berguna lagi. Seperti cahaya lilin yang tersembunyi.

Jadi yang penting, di mana pun kita berada jangan biarkan garam kita menjadi tawar, dan terang kita menjadi redup.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku mau berbuat baik kepada sesama meski banyak tantangan?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version