Sabtu, 5 April 2025
Yer 11:18-20
Mzm 7:2-3.9bc-10.11-12
Yoh 7:40-53
KITA sering terburu-buru menilai seseorang hanya dari penampilan luar, dari apa yang terlihat di permukaan, dari cerita yang kita dengar, atau dari sikap sesaat yang mungkin tidak mencerminkan keseluruhan pribadi mereka.
Untuk itu, kita diajak memiliki hati yang penuh kasih dan pengertian. Menghakimi sering lahir dari kurangnya empati dan kurangnya upaya untuk mengklarifikasi terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi.
“Seorang sahabat bercerita bahwa kadang sikap diamnya di salah mengerti oleh orang lain,” ujarnya.
“Waktu saya bersikap dingin, dan beberapa orang langsung berpikir saya sombong. Ketika saya diam saja dalam pertemuan, mereka langsung menilai saya tidak peduli.
Padahal waktu itu, saya sedang bergumul, lelah, atau bahkan memikul beban yang tidak mereka ketahui. Orang lain itu, tidak pernah tahu cerita lengkap seseorang hanya dari sepintas pertemuan.
Mestinya kita lebih berhati-hati dalam menilai, dan lebih berusaha melihat kebaikan dalam diri orang lain.
Jika ada keraguan, klarifikasi lebih baik daripada menghakimi. Saya ingin selalu belajar menjadi pribadi yang memberi ruang untuk pengertian, bukan prasangka.” ujarnya lagi.
Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?”
Mereka mengatakan kepada Nikodemus yang membela Yesus: “Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.”
Nikodemus, seorang Farisi yang diam-diam mulai percaya kepada Yesus, mengajukan pertanyaan penting kepada orang Farisi dan ahli Taurat.
Pertanyaan itu begitu dalam dan relevan, bukan hanya dalam konteks waktu Yesus, tetapi juga dalam kehidupan kita saat ini.
Kita hidup di dunia yang begitu cepat memberikan label, menjatuhkan vonis, dan menyebarkan opini, sering kali sebelum fakta sepenuhnya diketahui, bahkan sebelum orang diberi kesempatan untuk menjelaskan.
Nikodemus mengingatkan kita akan nilai penting dalam hukum Taurat sendiri, yaitu keadilan dan mendengarkan lebih dahulu.
Sayangnya, rekan-rekannya malah menjawab dengan sinis dan penuh prasangka: “Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.”
Jawaban itu bukanlah klarifikasi, tapi bentuk penghakiman yang lahir dari kebutaan rohani dan ketertutupan hati.
Kita pun sering bersikap seperti itu. Saat mendengar gosip, saat melihat sikap orang yang tidak kita mengerti, kita langsung menilai.
Padahal kita belum mendengar ceritanya, belum tahu pergumulannya, belum memahami sepenuhnya kebenarannya.
Kita diajak untuk melakukan pertobatan. Pertobatan dalam hal apa? Pertobatan dalam bersikap tidak mudah menghakimi. Kita juga diingatkan untuk melihat dan mengenal Yesus di dalam diri sesama.
Bagaimana dengan diriku?
Apakah aku mencari kebenaran atau hanya membela pendapatku sendiri?