Home BERITA Kekaguman Hati

Kekaguman Hati

0
Ilustrasi: Semoga Hari Baru Kau Hunjukkan dalam Kagumku pada-Mu.

Kamis, 27 Maret 2025

Yer. 7:23-28.
Mzm. 95:1-2,6-7.8-9.
Luk. 11:14-23

SERING kali kita mengagumi sesuatu tanpa benar-benar terlibat di dalamnya.

Misalnya, seseorang dapat mengagumi keindahan sebuah lukisan, namun ia tidak serta-merta menjadi pelukis. Seorang penonton bisa terpesona oleh kehebatan seorang atlit, tetapi itu tidak otomatis membuatnya berlatih keras seperti sang juara.

Hal yang sama bisa terjadi dalam kehidupan beriman. Kita mungkin terpesona oleh kebesaran Tuhan, kekuatan doa, atau keindahan ajaran agama, tetapi apakah kita benar-benar hidup sesuai dengan iman itu?

Iman yang sejati tidak cukup hanya sebatas kekaguman. Kekaguman hanyalah permulaan, sebuah pintu masuk menuju sesuatu yang lebih dalam. Iman menuntut komitmen, kesediaan untuk hidup sesuai dengan ajaran yang kita yakini, bahkan ketika hal itu tidak mudah.

Tuhan tidak menghendaki kita hanya sebagai pengagum, tetapi kita dipanggil untuk menjadi pengikut yang berkomitmen. Tanpa komitmen, iman hanyalah sesuatu yang dikagumi dari kejauhan, seperti seseorang yang memuji gunung yang indah tetapi tidak pernah mendakinya.

Namun, dengan komitmen, iman menjadi jalan hidup yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan dan kepada sesama.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Maka heranlah orang banyak. Tetapi ada di antara mereka yang berkata: Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan.”

Kisah ini menunjukkan bahwa mukjizat tidak selalu membawa orang kepada iman. Meskipun mereka melihat kuasa Tuhan bekerja di depan mata, sebagian orang tetap menolak percaya dan malah mencari alasan untuk menentang Yesus.

Kekaguman yang diceritakan dalam Injil tidak selalu membuat orang menjadi beriman. Orang-orang yang menyaksikan penyembuhan orang yang kerasukan setan, sikapnya sangatlah ironis.

Meskipun mereka sangat kagum tapi kekaguman mereka itu berakhir dengan penolakan terhadap Yesus. Mereka menuduh Yesus bersekongkol dengan Beelzebul.

Iman bukan hanya tentang menyaksikan mukjizat atau merasa kagum terhadap Tuhan. Iman sejati lahir dari hati yang terbuka untuk menerima kebenaran dan bersedia mengubah hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

Biarlah kekaguman kita terhadap Yesus membawa kita kepada iman yang teguh, yang mengubah hidup dan semakin mendekatkan kita kepada-Nya.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku hanya sekadar mengagumi Yesus, atau benar-benar beriman kepada-Nya?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version