Kamis, 27 Februari 2025
Sir. 5:1-8
Mzm. 1:1-2,3,4,6
Mrk. 9:41-50
KITA hidup di dunia yang penuh dengan godaan dan jebakan yang dapat menjauhkan kita dari Tuhan.
Tidak jarang, kita berkompromi dengan kebiasaan yang tidak baik, entah itu kesombongan, keegoisan, hawa nafsu, atau perbuatan yang menyakiti sesama.
Kita harus sadar bahwa segala sesuatu yang buruk di dalam hati dan kehidupan kita harus dibuang. Kita tidak bisa membiarkan kebusukan berakar di dalam diri kita.
Sifat iri, dengki, kebohongan, fitnah, dan kesombongan hanya akan menyesatkan dan menjauhkan kita dari kasih-Nya.
Jika kita membiarkannya tetap tinggal, perlahan-lahan kita akan kehilangan kedamaian sejati yang berasal dari Tuhan.
Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam kebenaran, bukan dalam kenikmatan sesaat yang menyesatkan.
Memang, berjuang untuk tetap berada di jalan yang benar tidak selalu mudah. Dalam kehidupan ini pengalaman mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu yang berharga selalu membutuhkan pengorbanan.
Seperti pohon yang harus dipangkas agar dapat bertumbuh lebih subur, kita pun harus berani memangkas segala kebiasaan buruk dalam hidup kita agar semakin mendekat kepada Tuhan.
“Seandainya saya cukup disiplin dan tegas dengan hidupku, maka berbagai kesulitan dalam hidupku saat ini, bisa saya hindari,” kata seorang bapak.
“Aku dulu begitu yakin, dengan segala kemudahan dan jabatan yang aku miliki, aku berpikir bahwa dengan segala aku miliki semuanya akan baik-baik saja.
Namun kebiasaan jelek dan mengejar kenyamanan serta kenikmatan membuatku terseret dalam arus kehancuran yang tidak bisa saya elakkan.
Aku bahkan kehilangan kendali atas hidupku, atas mimpi dan masa depanku.
Kemalasan menjadi akar kehancuranku. Pikiranku jadi lambat, greget untuk berinovasi dan berkreasi memudar,” ujarnya.
Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan.”
Ayat ini bukan berarti secara harfiah kita harus memotong bagian tubuh kita, tetapi sebuah peringatan keras agar kita berani meninggalkan segala sesuatu yang menyesatkan, meskipun itu sulit dan menyakitkan.
Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam kebenaran, bukan dalam kenikmatan sesaat yang menyesatkan.
Memang, berjuang untuk tetap berada di jalan yang benar tidak selalu mudah. Ada banyak rintangan, godaan, bahkan penderitaan yang harus kita hadapi. Tetapi ingatlah, segala sesuatu yang berharga selalu membutuhkan pengorbanan.
Tuhan selalu memberi kita kesempatan untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Dia tidak pernah meninggalkan kita, bahkan ketika kita jatuh, Dia selalu siap mengangkat kita kembali.
Bagaimana dengan diriku?
Apakah aku berani meninggalkan kebiasaan burukku?