Home BERITA Rekonsiliasi Sains dan Filsafat: Tantangan Implementasi yang Realistis (3)

Rekonsiliasi Sains dan Filsafat: Tantangan Implementasi yang Realistis (3)

0
Ilustrasi - Tantangan di depan. (Ist)

MEWUJUDKAN integrasi sains dan filsafat menghadapi tantangan praktis yang substantial. Beberapa di antaranya:

1. Insentif institusional yang tidak selaras
Struktur penghargaan akademis dan korporat cenderung mendorong spesialisasi sempit dan hasil jangka pendek, bukan integrasi pengetahuan dan pertimbangan dampak jangka panjang. Seorang profesor teknik mungkin mendapatkan promosi berdasarkan jumlah publikasi teknis, bukan kualitas refleksi etisnya; seorang pengembang AI di perusahaan teknologi dinilai dari efisiensi algoritmanya, bukan pertimbangannya tentang implikasi sosial.

2. Kesenjangan bahasa dan kerangka konseptual
Berbagai disiplin mengembangkan kosakata dan kerangka konseptual yang berbeda, menciptakan hambatan komunikasi yang signifikan. Para ahli teknis dan para filsuf sering menggunakan istilah yang sama dengan makna yang berbeda, atau menggunakan istilah berbeda untuk konsep yang terkait.

3. Keterbatasan kognitif manusia
Meskipun kita mendambakan integrasi pengetahuan, kapasitas kognitif individu memiliki batasan. Tidak realistis mengharapkan setiap orang menjadi ahli dalam semua domain pengetahuan yang relevan dengan masalah kompleks. Kita perlu mengembangkan model kolaborasi yang memungkinkan integrasi terjadi pada level kolektif, meskipun spesialisasi tetap diperlukan pada level individu.

Ilustrasi – Menjaga hidup seimbang. (Parsi Times)

Menuju keseimbangan yang produktif

Menjembatani kesenjangan antara sains dan filsafat memerlukan pendekatan yang menghargai keunggulan teknis sambil memperkayanya dengan dimensi reflektif. Beberapa langkah praktis yang dapat diambil:

1. Reformasi pendidikan prioritaskan kompetensi teknis dan kapasitas reflektif
Kurikulum pendidikan tinggi perlu didesain ulang untuk mengembangkan keterampilan teknis yang mendalam sekaligus kemampuan untuk mempertanyakan asumsi, mengenali implikasi etis, dan menghubungkan pengetahuan spesifik dengan konteks yang lebih luas. Ini bukan tentang mengurangi ketepatan metodologis, tetapi melengkapinya dengan kapasitas untuk memahami makna dan implikasi dari pekerjaan teknis.

2. Menciptakan “Boundary Objects” fasilitasi Dialog Transdisipliner
Boundary objects” (objek perbatasan) adalah konsep, kerangka kerja, atau artefak yang dapat dipahami dari perspektif berbagai disiplin, meskipun dengan interpretasi yang mungkin berbeda. Konsep seperti “keberlanjutan, resiliensi atau “kesejahteraan” dapat berfungsi sebagai titik pertemuan untuk dialog antara berbagai jenis keahlian.

3. Mengembangkan budaya organisasi yang hargai berbagai bentuk pengetahuan
Organisasi penelitian, perusahaan teknologi, dan lembaga pemerintah perlu mengembangkan budaya yang tidak hanya menghargai pencapaian teknis tetapi juga pemikiran kritis dan refleksi etis. Ini berarti menciptakan insentif dan jalur karier yang mengakui kontribusi dalam menjembatani domain pengetahuan.

4. Mempraktikkan epistemologi kerendahan hati
Keyakinan bahwa pendekatan disiplin kita sendiri memiliki semua jawaban—baik itu keyakinan saintisme (pandangan bahwa metode ilmiah adalah satu-satunya sumber pengetahuan valid) yang mengagungkan metode ilmiah atau bentuk anti-sains yang menolak bukti empiris—merupakan hambatan utama untuk integrasi pengetahuan. Kita perlu mengembangkan “epistemologi kerendahan hati” yang mengakui keterbatasan setiap pendekatan pengetahuan sambil mengapresiasi kekuatan spesifiknya.

Ilustrasi – Kompetensi. (Ist)
  • Penutup: Kompetensi teknis yang diperkaya, bukan dikerdilkan

Rekonsiliasi antara sains dan filsafat yang kita upayakan bukanlah tentang mengerdilkan keahlian teknis, melainkan tentang menguatkannya dengan dimensi yang membuatnya lebih relevan dengan kompleksitas dunia nyata.

Ini seperti seorang dokter bedah yang tidak hanya menguasai teknik operasi dengan sempurna. Tetapi juga memahami pasien sebagai manusia utuh dengan konteks kehidupan yang kompleks.

Sains empiris dan keahlian teknis tetap menjadi fondasi tak tergantikan dari kemajuan peradaban. Namun untuk menghadapi tantangan eksistensial abad ke-21—dari perubahan iklim hingga transformasi sosial oleh AI—kita memerlukan keahlian teknis yang berakar dalam pemahaman tentang nilai, tujuan, dan makna.

Seperti dikatakan oleh fisikawan dan filsuf Carl Friedrich von Weizsäcker, “Sains adalah setengah dari kebijaksanaan” [9].

Menurut von Weizsäcker, untuk mencapai kebijaksanaan penuh, diperlukan pengintegrasian hasil-hasil sains dengan nilai-nilai filosofis, etis, dan juga pengalaman hidup yang lebih luas.

Maka dari itu, kita perlu mengintegrasikan setengah lainnya—perspektif filosofis tentang tujuan dan nilai—bukan untuk mengerdilkan sains, tetapi untuk memastikan bahwa kemampuan teknisnya diarahkan menuju kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi semua.

Seperti yang saya sebutkan dalam tulisan saya Progress: A Post-AI Manifesto, “Kemajuan harus menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai yang berpusat pada manusia” [3].

Robert Nisbet, dalam kajiannya tentang sejarah ide kemajuan, mengingatkan kita bahwa konsep kemajuan itu sendiri telah berevolusi secara signifikan sepanjang sejarah, dengan dimensi moral dan spiritual yang sering terabaikan dalam narasi modern yang berfokus pada kemajuan teknologis [7]. Refleksi semacam ini sangat relevan di era AI dan otomatisasi.

AI dan kemajuan teknis lainnya memang “membawa dampak dan transformasi yang signifikan” [4], tetapi potensi transformatif ini harus dikelola dengan pendekatan yang “mengintegrasikan pertimbangan etis ke dalam pengembangan teknologi” [4].

Dalam konteks pribadi, penerapan teknologi seperti AI kontekstual harus selalu mempertimbangkan “efektivitas dan pertimbangan etis” dengan serius [8].

Ini menunjukkan bahwa rekonsiliasi antara sains dan filsafat bukan hanya aspirasi akademis, tetapi kebutuhan praktis untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi benar-benar melayani kemanusiaan secara utuh.

Referensi

  • Brown, T. (2008), Design thinking, Harvard Business Review, 86(6), 84-92.
  • Feynman, RP.(1985), Surely You’re Joking, Mr. Feynman!: Adventures of a Curious Character, WW Norton & Company.
  • Haryanto, CY (2024), Progress: A Post-AI Manifesto. Available: https://doi.org/10.48550/arXiv.2408.13775 
  • Haryanto, CY, Vu, MH, Nguyen TD, Lomempow E, Nurliana Y & Taher S. (2024). SecGenAI: Enhancing Security of Cloud-based Generative AI Applications within Australian Critical Technologies of National Interest. Available: https://doi.org/10.48550/arXiv.2407.01110 
  • Kuhn, TS. (1994), The structure of scientific revolutions (2nd ed., enlarged, 21st print). University of Chicago Press.
  • Messeri, L, & Crockett, MJ. (2024). Artificial intelligence and illusions of understanding in scientific research, Nature, 627(8002), 49-58.
  • Nisbet, RA. (1994), History of the idea of progress, Transaction Publishers.
  • Nurliana, Y, Haryanto, CY, Helmi, J, & Bandyopadhyay, A. (2024), How Contextualised AI Are Reshaping Personal Branding. ANZMAC 2024 Conference, Tasmania. Available: https://www.anzmac2024.com/proceedings 
  • von Weizsäcker, CF. (1980), The Unity of Nature, Farrar, Straus, Giroux.

Baca juga: Rekonsiliasi sains dan filsafat, integrasi dan bukan subordinasi (2)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version