PERAWAKANNYA paling besar di antara kami. Selain yang dekat dengannya, banyak yang hanya berani memandang dari jauh. Kalau main kasti di lapangan, tak ada yang berani menjaga honk, besi untuk dipegang sebagai penanda sudah menyentuh sudut permainan. Berani sentuh, kontak.
Kalau sepak bola, ia biasa menggiring bola. Lari seperti celeng, babi hutan, tidak bisa berbelok dan meliuk-liuk. Sendirian saja dari sisi timur ke sisi barat. Tak ada yang berani merebut bola. Katanya dengan suara berat, “Tak gaprak dheke.”1
Yah, begitulah, teman yang dipanggil Sawal. Lahir memang pada bulan Syawal, yang dieja orang Jawa sawal.
“Nyong wenehi duite. Nek ora gelem, jotos,”2 katanya di kesempatan lain. Uang saku Rp. 10,00 pun berpindah kantong.
Saat istirahat dan jajan es, buatan Toko Roti ABC, pada Kang Slamet, dengan enteng sambil mengambil dua bungkus plastik es, Sawal berkata, “Kang, iki sing mbayar cah kiye.“3

Saat libur menjadi hari penuh kegembiraan. Bermain bebas. Tanpa gangguan.
Saat masuk sekolah, setelah lubur panjang hari raya Idul Fitri, dikejutkan oleh orang yang memaksa salaman. Dengaan suara khas dan berat terdengar, “Nyong njaluk ngapura, ya.”4
Di hari yang fitri, suci, Sawal lahir kembali. Fitri.
Nyong njaluk ngapura, ya, sedulur, saya mohon maaf, sobat.
30.03.2025. bm-1982. ac eko wahyono. Tuhan memberkati di hari yang fitri.
1 saya tendang lututmu.
2 Beri saya uang. Kalau tidak, kutempeleng kau.
3 Bang, anak ini yang bayar.
4 Saya minta maaf.