Home BERITA Terpatri

Terpatri

0

Renungan Harian
Senin, 19 April 2021
Bacaan I: Kis. 6: 8-15
Injil: Yoh. 6: 22-29
 
ADA sebuah kisah lucu. Di sebuah toilet, banyak orang tengah mengantri, tetapi orang yang di dalam kabin toilet itu kok sudah lama tidak keluar-keluar selesai.

Akibatnya, antrian semakin banyak. Semua orang di antrian mulai ngomel, karena dorongan membuang hajat semakin memuncak.

Orang mulai teriak dan menggedor pintu. Bahkan mendorong dan menarik pintu mencoba membuka. Namun juga tidak membuat orang yang di dalam segera keluar.
 
Tiba-tiba ada seorang yang baru datang, tidak ikut mengantri dan langsung menuju ke toilet itu. Tidak ada satu pun orang yang mengantri marah dengan orang yang langsung menuju ke toilet itu, karena semua orang yakin bahwa pintu tidak dapat dibuka.

Orang yang baru datang itu membuka pintu tidak dengan mendorong atau menarik; tetapi menggeser pintu toilet itu dan terbuka.

Ternyata pintu tidak terkunci dan di dalam toilet tidak ada orangnya.
 
Semua orang yang mengantri itu dalam pikirannya sudah terpatri. Memunculkan keyakinan bahwa pintu itu dibuka dengan cara didorong atau atau ditarik; sehingga pilihan membuka pintu dengan digeser atau yang lain tidak ada dalam benak mereka.
 
Apa yang sudah terpatri dalam pikiran dan muncul sebagai keyakinan telah menjadikan seseorang nyaman dan mapan. Dengan cara itu, perubahan cara pikir jadi amat sulit terjadi.

Apalagi setiap orang cenderung mencari dan membangun kenyamanan serta kemapanan.
 
Demikian juga dengan seseorang yang menjalani peziarahan hidup.

Ketika sudah menemukan kenyamanan dan kemapanan dengan cara menjalani peziarahan hidup, maka menjadi sulit melihat cara lain. Meski cara yang selama ini dijalani kurang baik atau bahkan salah.

Butuh usaha dan kerelaan untuk mengalami guncangan dalam hidup. Bahkan tidak jarang memunculkan penderitaan.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Yohanes menantang kita semua untuk berani melihat dan merefleksikan pilihan cara menjalani peziarahan hidup.

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal. Yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu.”

Bagaimana dengan aku?

Beranikah aku beranjak dari kemapananku?
 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version