Home BERITA Waktu Begitu Cepat Berputar, Lebaran pun Tiba

Waktu Begitu Cepat Berputar, Lebaran pun Tiba

0
Jangan sia-siakan waktu

“Time flies like an arrow; fruit flies like a banana.”

Pepatah yang menggambarkan waktu seolah berjalan dengan (sangat) cepat. Ia digambarkan melesat terbang bak anak panah. Kalimat kedua tak jelas maksudnya. Mungkin hanya pemanis belaka, nirarti.

Meski sejatinya jalannya waktu tak sesederhana itu.

Dari dulu, waktu berjalan konstan. Tak pernah lari lebih kencang. Atau beringsut, lebih “timik-timik”, seperti bayi yang baru belajar berjalan.

Cepat atau lambatnya sang waktu, bukan karena bunyi pepatah. Ia produk dari aktivitas apa yang sedang dilakukan.

Hansip di malam hari, yang kedinginan di pos jaga, merasa waktu bergulir seperti siput yang sedang “ngesot” di tepi pantai.

Sebaliknya, waktu terasa lari “sipat kuping” saat sedang menggeluti hobi yang disukainya. Singkat kata, “kecepatan” waktu tergantung dari suasana hati pelaku yang menjalaninya.

Bukan tergantung dari luar atau siapa pun. Durasinya sama. Jamnya, menitnya dan detiknya, tak beda. Perasaan di dalam diri manusialah yang membuatnya tak sama.

Itulah yang saya rasakan saat ini.

Berusaha mengisi waktu dengan ringan, rileks dan menyenangkan. Hingga waktu serasa berputar seperti kuda laga yang melesat di lapangan pacuan. Lari cepat sekali.

Tanggal satu segera diikuti dengan tanggal satu di bulan berikutnya. Baru saja meninggalkan Senin, tiba-tiba tanpa terasa sudah Minggu malam. Jam berganti jam, menit dan detik sama juga. Seolah lari tanpa nengok ke kanan atau kiri. Itu tanda bahwa sepantasnya untuk selalu bersyukur.

Bergulirnya waktu dengan cepat karena diputar oleh hati yang gembira. Sekaligus menyehatkan badan. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur” (Ams 17:22).

Masih soal berputarnya waktu. Sedikit surprais saat tadi pagi mendengar pengumuman dari menara mesjid dekat rumah. “Puasa Ramadhan masuk hari ke 28.”

Itu berarti Lebaran tinggal dua hari lagi.

Seakan baru saja merayakan Hari Raya Lebaran, padahal sudah hampir satu tahun lampau. Kemeriahan Natal dan kemudian Tahun Baru, terasa baru kemarin sore, padahal sudah tiga bulan lalu.

Bagi kami, Hari-hari Raya, di antaranya, ditandai dengan kehadiran saudara, kerabat, dan tetangga yang tak henti-hentinya. Kami merayakan keduanya dengan penuh sukacita. Sama persis, tak ada bedanya.

Wajar, kalau kegembiraan pun memuncak. Tamu-tamu ilahi hadir dalam rupa silaturahmi yang menyehatkan badan, memperpanjang usia dan melapangkan rezeki. (HR Bukhari- Muslim)

Tak hanya itu, saat mereka pulang, sengkala, penyakit, binatang-binatang berbisa pergi, keluar dari rumah dan hati kami. Kedatangan mereka membawa rezeki dan kepulangannya mencurahkan ampunan. (HR Dailami)

Bercengkerama dengan kerabat memang sangat menyenangkan. Pun, memacu munculnya hormon Oxytocin di “hypothalamus” bagian kecil dari pusat otak, yang merangsang kebahagiaan di dada. Pantas, ia juga disebut “hormon cinta” (love hormone). Kata kuncinya adalah silaturahmi.

Itulah makna dan hakikat Hari Raya, apa saja.

Bila sedang gembira, waktu sering terbang seperti kilat. Tak apa, asal bisa mengelolanya dengan rendah hati dan bijaksana.

“The bad news is time flies. The good news is you’re the pilot”. (anonim)

“SELAMAT LEBARAN IDUL FITRI – 1446”
Mohon maaf lahir batin

@pmsusbandono
28 Maret 2025

Baca juga: Sri, nama dengan sejuta makna

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version